Photo blogging : Gaya Hidup Baru atau Hanya Tren Sesaat

Abstrak

Mendokumentasikan diri lewat blog telah menjadi hal yang akrab ditelinga kita, sehingga munculah photo blog, sebuah aktivitas yang lebih spesifik dari yang dilakukan lewat Facebook. User hanya mengunggah foto untuk menceritakan kisah tentang kehidupan sehari-harinya. Foto dibaca sebagai teks verbal yang seolah hidup dan berkomunikasi dalam relasi sosial. Dalam jurnal ini penulis menjelaskan bagaimana photo blog didefinisikan sebagai ‘gaya’ dari sebuah gaya hidup yang telah ada sebelumnya, hingga suatu saat dia adalah gaya hidup itu sendiri dan sebagai sebuah gaya dia berkembang dan bisa menjadi tren dalam gaya hidup.

 

Kata kunci: photo blog, gaya hidup, tren

Continue reading Photo blogging : Gaya Hidup Baru atau Hanya Tren Sesaat

Instagram Sebagai Media Komunikasi

Pendahuluan

Komunikasi praktis mencakup hal fisik dan non fisik secara kontekstual dimana  sebuah komunikasi dapat dilakukan dan digunakan. Komunikasi praktis dapat  terjadi dalam hubungan antara pengirim dan penerima melalui sebuah media yang didalamnya terdapat pesan yang berbasis penggunanya, apa yang dia pikirkan, bagaimana perasaannya dan bagaimana pengguna tersebut bekerja untuk kemudian di kirim dan diterima oleh pengguna lain. Media ini memudahkan penggunanya dalam posisinya sebagai pengirim maupun sebagai penerima pesan. Pesan tersebut berupa interaksi sosial antara manusia satu dengan lainnya lewat komunikasi

Dewasa ini komunikasi tidak hanya dilakukan secara fisik tetapi dapat dilakukan dalam dunia maya dengan mediasi komputer dalam situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, Picassa, Flickr dsb. Komunikasi yang terjadi dimana penggunanya menyampaikan pesan dan diterima oleh pengguna lain kemudian terjadi interaksi ketika pesan tentang diri pengguna di bagikan untuk di apresiasi, di respon dan mendapat tanggapan.

Pesan yang ditampilkan untuk dilihat oleh pengguna lain dapat berupa teks dan foto , tetapi seiring dengan perkembangannya Instagram menjadi salah satu situs jejaring sosial yang populer saat ini. Berbeda dengan Facebook dan Twitter, situs ini menggunakan foto sebagai media penyampai pesan dimana ia dibaca sebagai sebuah teks. Dalam satu relasi sosial dalam dunia maya, foto dilekati tanda yang dapat berfungsi sebagai petanda dan penanda sekaligus yang terjadi ketika sebuah narasi didalam foto dari si narrator dimaknai oleh si pembaca narasi .

Instagram adalah sebuah desain yang memiliki fungsi komunikasi praktis dan menjadi sebuah media komunikasi, melalui signifikasi foto. Pernyataan ini yang akan dijelaskan lebih lanjut melalui perspektif desain dan media. Bagaimana fungsi komunikasi praktis serta signifikasinya yang terjadi di dalam desain dan bagaimana desain berfungsi sebagai media komunikasi.

Instagram sebagai media komunikasi praktis yang mensignifikasi foto

Dalam situs jejaring sosial, komunikasi yang terjadi adalah komunikasi publik yang melibatkan lebih banyak orang, sehingga kualitas komunikasinya jadi tidak sebanding, pesan disampaikan dan direspon oleh anggota yang berkomunikasi dalam area publik yang selanjutnya disebut sebagai audien. Audien tidak dapat berkomunikasi secara langsung seperti komunikasi dua arah yang terjadi dalam komunikasi interpersonal.  (Adler, 2011)

Instagram membangun suatu profil publik atau semi publik dalam sistem yang terbatas, mengartikulasikan daftar pengguna lain dengan siapa saja mereka berbagi, melihat dan menelusuri  daftar kolega mereka dan daftar kolega yang dibuat oleh orang lain dalam sistem. Mengijinkan dan menganjurkan seluruh pengguna untuk membuat, berbagi dan menyebarkan informasi dan gambar. yang menekankan berbagi konten antara pengguna dan kolaborasi secara online. Hal ini adalah bentuk aplikasi yang dinamis, fleksibel dan interaktif yang keseluruhannya dapat disebut sebagai desain.  (Porter, 2008)

Komunikasi fisik dari manusia secara non fisik disalin melalui media komputer menjadi bentuk-bentuk fitur yang berbasis pengguna seperti friends, contact, leave messages dan sebagainya yang user friendly sehingga dengan mudah dikenali dan digunakan. Hal serupa juga dapat ditemukan di dalam Instagram dengan menggunakan foto sebagai generator terjadinya komunikasi.

Instagram adalah program sharing foto ke dalam jejaring sosial yang memfasilitasi penggunanya untuk memfoto dan mengaplikasikan filter digital bertemakan faux vintage ke dalam fotonya untuk kemudian di share ke pengguna lain yang saling terhubung didalam jejaring sosial.  (Linaschke, 2011)

Foto faux vintage dipahami sebgai tanda yang dibaca seperti sebuah teks dimana didalamnya melekat petanda dan penanda. Teks berlaku seperti sebuah narasi yang disampaikan melalui proses komunikasi. Proses ini terjadi di dalam relasi sosial antara narator dan pembaca narasi  sesuai dengan konteks dimana teks tersebut dibaca. Narasi dalam sebuah foto tersebut akan bermakna denotasi apabila di konstruksi dari realitas, dimana foto adalah medium yang merepresentasi, namun dapat juga bermakna konotasi ketika narasi dikonstruksi sedemikian rupa sehingga tidak lagi mengacu pada realitas. Dalam signifikasi foto sebagai sign, pada tataran kedua, konotasi dari narasi pada sebuah foto akan dipahami sebagai sebuah makna yang sebenarnya atau denotasi.  (Barthes, 1993)

Gambar 1. Cara kerja mitos dalam budaya. Diadaptasi dari Two orders of signification dari Barthes dalam buku terjemahan “Introduction to Communication Studies” hal. 145

Continue reading Instagram Sebagai Media Komunikasi

REALITAS DALAM INSTAGRAM: KETIKA REALITAS BUKAN SEBUAH REALITAS STUDI KASUS: FOTO FAUX VINTAGE

Seiring dengan kemajuan teknologi kegiatan mendokumentasikan diri telah bergeser dari sifatnya yang fisik menjadi tidak  fisik. Aktifitas memotret menjadi sangat instan yaitu point-shoot-share lewat kamera smartphone,  foto tidak lagi personal, melainkan dipublikasikan, foto tidak lagi dicetak dan disimpan tapi untuk ditunjukkan ke teman lewat jejaring sosial. Di sosial media foto adalah avatar yang melakukan relasi sosial. Dalam Instagram misalnya, sebuah aplikasi sejenis Facebook yang memungkinkan pengguna untuk mendokumentasikan dirinya, mengedit foto dengan efek faux vintage, lalu mempublikasikannya sekaligus. Sebuah foto faux vintage  dihadirkan sebagai realitas, tetapi apakah realitas dalam foto tersebut sama dengan realitas fisiknya, atau hanyalah sebuah model dari realitas.

Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana sebuah representasi realitas pada foto faux vintage dibentuk dan dimaknai sebagai realitas. Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan studi budaya dan semiotika, sehingga  akan dihasilkan pemaparan makna realitas dibalik foto faux vintage dalam Instagram. Foto faux vintage menarasikan mitos, dan ideologi penggunanya. Foto tersebut juga mensimulasikan realitas, dia adalah avatar pengguna dalam sosial media. Avatar-avatar ini kemudian saling bertemu dan saling berelasi secara virtual, menggantikan hubungan sosial antara pengguna satu dengan yang lainnya dalam dunia fisik.

 

Kata kunci: foto faux vintage, realitas

Continue reading REALITAS DALAM INSTAGRAM: KETIKA REALITAS BUKAN SEBUAH REALITAS STUDI KASUS: FOTO FAUX VINTAGE