Category Archives: Journals

Meeting Up with Embran Nawawi

Call of duty preparing curriculum  for fashion program under the Visual Communication Design  department brought together me and Embran Nawawi along with my colleges at Petra Christian University where I work. The program will be opened in 2017 as well as the new building-called P2 on the west side of P building-operate next year..
During the conversation with the multi talented Embran I learnt a lot about fashion..the craft and textile graduate explained so much on how fashion design today should be brought to creative industry and that Indonesian designers should understand thoroughly about tradition or heritage to be on  his/her work as an emphasis, not just as a banal creation..it has to have values.
And about the sustainability fashion as a theme for our fashion program, he opened my eyes that being ‘sustainable’ wasn’t  only about economy or Eco design with zero waste and no chemicals added. It was beyond than that, for example batik coloring, batik with a good quality color tended to have a chemical processes behind it, the chemical mixing color would enhance the tint on batik, yet it’s more economical. Batik with natural dyeing such as black indigo or orange from Mengkudu fruit will be tagged for a higher price, yet to deliver it  is surprisingly not environmental friendly at all. It could take many trees and other important natural resources  to be cut and crushed just to dyeing very little amount of fabric, imagine how many trees and soils  we destroy if we wanted to dye more material? He continued. Such information these ‘go green’ activists never share to us..after all this time I thought that being green was to stop using chemicals at all..I didn’t think that far, all I knew was the ‘propaganda’ of natural dyeing against the chemical one.’

Natural dyeing with black bean
Dip dyeing process

Anyway as for fashion design curriculum he told us to prepare with credible lecturers who knew well about fashion, it’s core concepts and trend forecasting, off course one of them would definitely be mas Embran himself, hehe…how cool is that to have him as a lecturer of fashion design Petra Christian University.

Embran Nawawi batik designer (C) shows new innovation of Maduranese stamp batik collection on October 1, 2013 in Surabaya, Indonesia. UNESCO give recognition and formally endorsed Indonesian Batik as a World Cultural Heritage on October 2, 2009 and the date used as the Batik Day. Courtesy of www.zimbio.com

My next task is to make a power point presentation, brought all the knowledge above-sustainable fashion, creative industry and traditional textile, include the curriculum  on to the slides. I’m gonna make that very each slide bombastic, tantalizing and awesome enough so that the foundation will be more convinced to activate fashion design department soon.

 

Any useful information about dip dyeing and batik is to log on to http://www.thelanguageofcloth.com/

’12:12 ONLINE FEVER’ THE BIGGEST SHOPPING EVENT IN SOUTHEAST ASIA

12:12 Online Fever at ZALORA-the one stop fashion online shop supported by the number of trusted e-commerce-offers you a lot of great deals for shopping online up to 84% JUST FOR TODAY, on 12th December 2014.

Don’t miss the deals: the buy 2 get 20% off for any ZALORA-labeled products, flats vs wedges start from 100,000 IDR, Big Bang Deals up to 84% and MANY MORE

banner2Moreover, there will be a lot of discount up to 70% from your favorite brands, such as Nike and Vans as well as Billy Tjong for ZALORA.

Not stopping there, this-New Year gift ZALORA presented to YOU all the shopaholic fashionistas and to YOU the loyal customers-giving you extra ‘easiness’ in experiencing shopping online with COD, 30 days-cash back guarantee and same day delivery, only for 50,000 IDR.

Today, 12th December 2014  12:12 Online Fever at ZALORA is now HAPPENING in 7 countries across South East Asia, all day long till midnight- the National Online Shopping Day #HARBOLNAS #ONLINEFEVER

Keep surfing and happy shopping guys!

 

Design based on Culture: Indonesia’s new industrial revolution

Revolusi dalam teknologi

Teknologi awalnya adalah semacam alat untuk membantu manusia dalam menyelesaikan persoalan. Di jaman purba teknologi lahir dari pemikiran manusia untuk menguliti binatang buruan, manusia menghasilkan teknologi berupa sistem bercocok tanam, dijaman revolusi industri eksistensi teknologi bahkan semakin nyata, sehingga manusia dan teknologi menjadi saling bergantung satu dengan yang lain . Eksistensi teknologi dipengaruhi manusia begitu juga sebaliknya. Berdasarkan pemikiran Paul Virilio dalam “Speed and Politics”, limit kecepatan atau yang diistilahkan sebagai dromology, telah menjadi dasar acuan teknologi. Teknologi dikembangkan dalam rangka untuk mempermudah, mempercepat, dan dimensinya makin lama semakin  mengecil-sekecil nano. Menurut Imam Buchori dalam bukunya ‘Wacana Desain’ teknologi telah menciptakan kemajuan pesat dibidang konstruksi, transportasi, mesin, kedokteran, pertanian, material, dan informasi.  Informasi sekarang berbentuk jaringan yang ubiquitous (saling terhubung), terjadi percepatan informasi yang menyusutkan ruang dan waktu. Untuk mendapatkan pengetahuan tidak perlu lagi ke perpustakaan tapi cukup dicari lewat google, dalam waktu yang singkat pengetahuan bisa didapatkan sebanyak-banyaknya. Memotret, mengedit dan mengunggah foto dapat dilakukan sekaligus, hanya perlu point-shoot-share lewat hape, ada virtual shopping, QR code, komputer dalam bentuk tablet,  green building, roof garden, melakukan operasi dibantu dengan robot dsb. Akhirnya terjadilah kreatifitas dimana-mana, akibat adanya implosi pengetahuan dari dampak teknologi informasi seseorang mampu menjadi generasi flux, instant generation, instant entrepreneur, instant selebrity dan bahkan instant scholar, sementara di sisi lain di tengah masyarakat Indonesia masih banyak pengamen jalanan pengangguran, pegemis-pengemis yang hidupnya bergantung dari hanya sekedar meminta-minta, pasif tidak berkreatifitas, atau suku-suku pedalaman seperti suku korowai di Papua Barat yang begitu primitif yang terisolir dari riuhnya industrialisasi dan tidak tersentuh teknologi apalagi globalisasi.

Kehidupan kini begitu kompleks, ada yang dipercepat  sementara yang tidak memiliki akses pada teknologi akan ketinggalan, kota-kota besar versus kota-kota kecil, antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang, maka tidak heran Indonesia dengan negara-negara besar seperti Amerika, Australia, Finlandia, Jepang dll juga terjadi gap yang begitu besar. Indonesia serasa berada 100 tahun tertinggal dibelakang mereka. Sebenarya bukan berarti Indonesia tidak memiliki akses terhadap teknologi ini, namun ada beberapaa faktor lainnya yang juga mempengaruhi besarnya jarak ini. Seperti yang dikemukakan oleh Adi Panuntun, yaitu ekonomi, policy dan kebudayaan. [1]

Ekonomi memang menjadi masalah utama bagi Indonesia. Ridwan Kamil dalam kuliah desain dan berkelanjutan menjelaskan topografi perekonomian masyarakat Indonesia, yang sebenarnya dikuasai oleh kaum buruh, masyarakat menengah kebawah sedangkan yang menengah keatas jumlahnya lebih sedikit, sehingga bentuknya seperti piramid dengan kelas menengah kebawah dibagian bawahnya.[2] Ekonomi dengan teknologi berjalan linear, artinya semakin mutakhir teknologi akan dibutuhkan banyak biaya, contoh saja seperti penemuan baru di bidang kedokteran yaitu operasi yang dilakukan dengan bantuan robot, smart car dengan listrik, giant wind mill yang menelan biaya fantastis. Tapi tidak selalu teknologi harus mahal, seperti pernyataan Tita Larasati dalam perkuliahan desain berkelanjutan, sebuah kursi bahkan dapat didesain dengan bahan bekas, atau anda juga bisa membuat wind mill sendiri juga dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Di negara berkembang lainnya seperti Afrika dengan permasalahan kesulitan air bersihnya yang harus didapatkan dengan berjalan berkilo-kilo meter jauhnya, yang ternyata dapat terselesaikan dengan desain. Sebuah sepeda pengangkut air yang ketika dikayuh dapat sekaligus membersihkan airnya tentu saja dengan harga yang terjangkau.[3]

 


[1] Panuntun, A. (2013). Design Thinking: Video Mapping. Bandung.

[2] Kamil, R. (2013). Desain berkelanjutan. Bandung.

[3] Larasati, D. (2013). Kuliah desain berkelanjutan. Bandung.

 

Kebijakan

Di Indonesia, wacana desain masih tergolong baru. Teori-teori yang didalamnya menyangkut desain seperti semiotika, cultural studies baru populer sekitar 10 tahun terakhir. Sejalan dengan itu yang kaitannya dengan desain selalu tunduk pada aturan di Indonesia yang sepertinya seringkali tunduk pada capital, kebijakan menjadi  tidak begitu ramah terhadap desain. Misalnya keberadaan public space sebagai jantung kegiatan kebudayaan masyarakat Indoensia yang ironisnya justru hilang digantikan oleh mal, kawasan tempat tinggal, apartment dll. Menurut Tita Larasati butuh keberanian dan usaha yang ekstra untuk melindungi atau memberdayakan publik space yang sekarang juga makin lama makin menyusut. Bagi Adi Panuntun hal ini merupakan titik tolak pemikiran desainnya, dengan video mappingnya ia bisa memberdayakan lagi public space dan berhasil menembus kebijakan-kebijakan pemerintah kota.

Gambar 1. Video mapping yang dilakukan oleh Adi Panuntun di museum Fatahilah menghidupkan kembali ruang public. Sumber: Vimeo

Kebudayaan

Menurut Imam, kebudayaan masyarakat kita sedang mengarah pada kebudayaan industrial, dengan perilaku masyrakatnya yang kolektif, dengan mentalitas agrarisnya, maka ada istilah ‘mangan ora mangan sing penting kumpul.’ Hal ini sebenarnya dapat dipahami karena seting perekonomian di Indonesia belum stabil, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, pendapatan perkapita yang masih tergolong rendah dan sebagainya, sehingga kumpul-kumpul atau bercengkrama dilakukan dalam rangka untuk melepas stres. Kesimpulannya, pembentukan perilaku bisa diakibat oleh turut andilnya teknologi dalam segala sendi kehidupan sehingga menjadi budaya dan akhirnya membentuk genetik kita.[4] Ketika kita melihat negara-negara seperti Singapura atau negara-negara maju lainnya, dimana kecepatan menjadi ukuran kinerja maka tidak ada lagi waktu kumpul-kumpul atau santai sejenak, dll.

Selain itu menurut Imam ada budaya imitasi dan budaya impor dengan maraknya boy band, boy girl Korea ‘gadungan’ seperti Smash, Cherrybell, dan 7 icons. Kebudayaan Korea ini diimitasi dan mendiaspora begitu kuat di Indonesia, budaya imitasi juga terjadi ketika produsen satu memproduksi produk lalu besoknya produsen lain juga membuat produk yang sama. Satu orang buka warung nasi padang yang lainnya ikut buka warung menjual masakan yang sama. Hal-hal ini memang sudah membudaya tapi dengan dipermudahnya teknologi, mestinya kita sebagai desainer lebih kreatif dan lebih peka, sehingga desain yang kita hasilkan tidak sekedar mengimitasi melainkan menjadi desain yang inovatif, desain yang beyond. Seperti Singgih dengan desain radio Magno yang orisinil, bahkan dapat menjadi penopang perekonomian, melestarikan budaya kriya sekaligus lingkungan disekitarnya.[5]

 


[4] Buchori, I. (2013). Kuliah teori desain. Bandung.

[5] Kartono, S. S. (2013, Mei 16). Retrieved 2006, from Woden Radio: http://www.wooden-radio.com/

 

Gambar 2. Radio Magno dari bahan kayu yang ramah lingkungan. Kayu ini ditangkarkan sendiri oleh Singgih melibatkan masyarakat sekitar desanya.

Sebagai desainer kita harus peka memanfaatkan dromology of knowledge istilah yang dikemukakan Paul Virilio ini untuk menciptakan desain yang dapat masuk kedalam latar belakang Indonesia yang bisa diterima secara ekonomi, policy, lingkungan, dengan menjadi kreatif seperti mobil bumble bee tapi didalamnya ternyata sepeda, dengan peka melihat apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan konsumen seperti yang di Afrika dengan masalah air sulit maka diciptakan sepeda pengangkut air yang apabila dikayuh otomatis akan membersihkan airnya, teknologi hipoklorit ini sebenanya juga telah dikembangkan di Indonesia seperti yang diciptakan Imam Buchori[6], melihat kebutuhan air bersih di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh radio magno yang sebelum ini dibahas, yang disebut sebagai beyond design, merupakan salah satu praktek dari design thinking yang mencakup ekonomi, budaya, policy, sampai menyentuh isu lingkungan.

 


[6] Buchori, I. (2010). Wacana Desain. Bandung: ITB .

 

Gambar 3. (kiri) Water project di Afrika untuk menanggulangi masalah sulitnya mencari air bersih. (kanan) desain generator hipoklorit untuk kebutuhan rumah tangga oleh Imam Buchori.

Produksi radio magno melibatkan tenaga kerja lokal didesanya  dengan memberdayakan tenaga kerja muda mempraktekkan  sistem manufaktur baru yaitu tetap mempertahankan  kemampuan kriyanya-local genius dengan sistem kinerja yang lebih terartur, orang-orang yang bekerja bisa berkumpul bersama, saling guyub sesuai dengan kebudayaan Indonesia.  Selain itu menggunakan bahan mentah kayu yang ditangkarkan sendiri ditanam sendiri jadi dia juga menghijaukan desanya, produk ini juga melibatkan konsumennya dalam hal perawatan sehingga diharapkan produk ini awet dan tidak terjadi penumpukan limbah karena konsumsi produk yang berlebihan tanpa ada solusi daur ulang. Penanaman pohon-pohon ini selain memberdayakan masyarakat juga melibatkan anak-anak di sekolah di desanya, bahkan menjadi sudah kurikulum pelajaran mereka yang berarti juga menyentuh policy pendidikan disana. Hasil dari penjualan radio magno djuga digunakan untuk menghidupi perekonomian di desanya. Desain magno mempertimbangkan segala aspek ekonomi, budaya, lingkungan sampai ke policy

Contoh lain adalah desain yang daur ulang, seperti tren yang diprediksi Irvan muncul kembali  merespon dari kekompleksan ini.[7] Ini yang dilakukan oleh Philippe Strack [8] yang baginya desain itu seharusnya bisa terbeli oleh segala lapisan, desain harus demokratis, maka ia membuat desain kursi dari bahan-bahan bekas yang diberikan secara gratis. Sebenarnya ini bisa diterapkan di Indonsia bahkan mungkin sudah tapi kurang menyeluruh, ada manufaktur pembuatan keset atau tas dari enceng gondok atau  tas dari limbah kemasan mi instan dan sabun cuci pakaian tapi sejujurnya ketika melihat produknya, ternyata tampilannya tidak menarik, meskipun usahanya untuk membuat produk yang fungsional, dari bahan daur ulang dan low cost (desain demokratis) patut dihargai tapi produk ini butuh ditempatkan dalam ruang desain bukan hanya sekedar industri manufaktur. Hal ini yang masih menjadi tugas bagaimana desain dapat mengemas dan membawa produk-produk seperti ini agar laku dipasaran dan lebih dari itu bisa membawa dampak positif bagi mereka.

Bisa juga dengan desain yang mampu mempengaruhi bagian bawah sadar otak, dengan memanfaatkan ketertarikan kesenangan untuk menjadikan hasil desain kita dilihat diingat dan mengendap serta dibiasakan dan menjadi budaya yang dibelakang itu tentu saja ada pemikiran yang beyond tentang desain, tidak hanya sekedar memproduksi barang untuk dikonsumsi, tapi memikirkan desain sebagai sesuatu yang menyenangkan yang bisa dipraktekkan seperti diatas. Seperti yang sudah dibahas diatas adalah Adi Panutun dengan video mapping-nya menanamkan cerita menembus policy kota, mampu menghidupkan kembali public space, bangunan-bangunan penting dikota yang sudah ditinggalkan, sehingga menjadi sebuah deasin yang menyenangkan. Tentu saja andilnya teknologi sangat besar disini.

Kesimpulan

Kita sebagai desainer harus bisa memanfaatkan teknologi ini dengan mempertimbangkan latar belakang budaya ekonomi dan policy di Indonesia. Melalui desain thinking menghasilkan desain yang demokratis, yang ramah, yang merangkul Indonesia. Teknologi dalam desain tidak harus mahal, dengan ‘mendaur ulang‘ atau seperti yang dikemukakan oleh Irvan sebagai slow desain, seperti wind mill bisa dikreasikan dari barang-barang bekas, dengan demikian teknologi dalam desain ini terbeli serta dampaknya terhadap lingkungan juga baik. Dengan kata lain desain demokratis yang menerapkan apa yang Imam sebut sebagai local genius sesuai dengan techno culture. [9]

Janganlah kita kemudian menutup diri, atau mengisolasi diri dari teknologi supaya identitas diri tetap terjaga-karena teknologi sendiri yang merupakan ciri khas dari globalisasi melalui kendaraan informasi memang tidak bisa dihindari, justru sebagai desainer mengawinkan generalisasi globalisasi yang tidak melihat nilai tradisi, agama dan adat istiadat-melainkan yang berinti pada kecanggihan, kemudahan, dan kecepatan-dengan local genius Indonesia agar dapat sinkron dan sejalan, serta dapat diterapkan dan diterima, sehingga mempunyai nilai estetis, kebaruan sebagai desain dan dapat berguna bagi kehidupan, khususnya masyrakat Indonesia.

 


[7] Irvan, N. (2013). Mebel menguasai pasar memahami trend dan kekuatan desain. Bandung.

[8] Larasati, D. (2013). Kuliah desain berkelanjutan. Bandung.

[9] Buchori, I. (2010). Wacana Desain. Bandung: ITB .

 

 

 

 

“GAINING POWER THROUGH GAZE” POWER DI DALAM MASYARAKAT KONTEMPORER STUDI KASUS: FOTO FACEBOOK, INSTAGRAM DAN BLOG DIANA RIKASARI

ABSTRAK

 

Percepatan informasi menjadi sebuah wacana dalam budaya kontemporer saat ini, dimana teknologi informasi telah berkembang pesat menyusutkan ruang dan waktu akibatnya masyarakat dan praktek sosialnya pun juga berubah. Hal ini sebenarnya telah dikritisi Paul Virilo dalam bukunya Speed and Politic, informasi kini dapat diperoleh secara real time melalui jaringan internet, menggantikan kegiatan membaca di perpustakaan seperti pada jaman budaya literature dahulu. banyaknya informasi, bahkan dapat sekaligus kita dapatkan diwaktu bersamaan, saling overlap, cepat datang dan cepat pergi, maka sifatnya hanya dilihat lalu dilupakan, inilah budaya visual dijaman yang serba cepat.

Fenomena ini juga mengubah relasi kekuasaan yang terjadi didalamnya, seperti yang dikemukakan oleh Foucault. Kekuasaan tidak lagi berbentuk antara ‘majikan’ dan ‘pelayan’, melainkan virtual, tidak lagi coercive melainkan terselubung. Kemasannya berupa ajakan, seperti sesorang dengan kecanduannya terhadap ekstasi, begitu mengikat dan tak berdaya dihegemoni oleh rasa kecanduannya terhadap ekstasi. Ekstasi tontonan, itulah yang dicari masyarakat dalam budaya visual ini, sehingga bukan lagi power/knowledge hanya tapi sekarang juga power/speed lewat tontonan.  Bertolak dari Virilo dan Foucault serta model konsumsi tontonan dalam masyarakat kontemporer akan diidentifikasikan  sebuah relasi kekuasaan yang dipraktekkan oleh Diana Rikasari via sosial media, seorang fashion blogger yang begitu berpengaruh di media.

Kata kunci: kekuasaan, kecepatan informasi, tontonan, sosial media, Diana Rikasari

Pendahuluan

Diana Rikasari adalah seorang fashion blogger yang memiliki pengaruh terutama bagi perempuan remaja dewasa ini, ia menjadi semacam role model bagi mereka yang mendambakan kehidupan yang perfect. Berkat kiprahnya di sosial media, blog dan instagram, lewat tontonan yang eye candy, barang-barang bermerk yang dipakai, fashion untuk sehari-hari, warna kuku, make up, kuliner serta kisah enterpreuner yang inspiratif menjadikannya panutan, dipuja dan populer kemudian blogger-blogger lainnya pun bermunculan.  Dari sini kekuasaan mulai tampak yang mampu menyedot perhatian publik, Diana muncul diberbagai media dan diberbagai kesempatan, Di televise, Koran, majalah, radio serta acara-acara offline. Tidak hanya itu para produsen produk yg dipakainya juga menginginkan untuk mensponsori Diana dengan produk-produk mereka bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkannya tentu sebagai strategi menguasai pasar juga.

Bentuk kekuasan-kekuasan ini hadir didalam praktek-praktek sosial di jaman percepatan informasi ini. Bentuknya telah bergeser dari model kekuasaan kapitalis, dimana yang berkuasa adalah pemilik modal-sang tuan yang menguasai kaum buruh atau pelayan, menjadi apa yang dipraktekkan oleh Diana dalam pusaran diskursi kecepatan, informasi dan teknologi, lalu kekuasaan apakah itu? Bagaimana kekuasaan ini bisa terbentuk? Jika Diana memperoleh kekuasaan melalui unjuk tontonan salah satunya barang-barang bermerk, posenya dengan pakaian-pakaian, makanan yang merupakan bentuk konsumtif, maka ia memproduksi tontonan lewat konsumsi, ia butuh untuk mengkonsumsi agar dapat memproduksi. Berarti apakah ia juga sedang dikuasai oleh konsumerisme? Dalam penjelasan berikut ini akan digunakan teori Virilo dan Foucault sebagai dasar bertolaknya pemikiran peneliti untuk menjawab Pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui identifikasi relasi kekuasaan.

Teori-teori kekuasaan dalam dromology

Bertolak dari Virilio[1]  yaitu dromology, penelitian ini juga menggunakan prinsip pemikiran dalam melihat fenomena masyarakat posmodern yang hidup didalam diskursus kecepatan, bagaimana kemudian kecepatan mempengaruhi atau bahkan menentukan perilaku masyarakat tersebut. Sejak teknologi informasi berkembang menjadi ‘the last vehicle’ meminjam istilah dari Virillio yaitu internet dengan jaringannya yang memungkinkan kita mendapatkan informasi dengan real time, tidak ada yang lebih cepat lagi. Maka pengetahuan secara implosive mendatangi kita. Hal ini kemudian berkaitan dengan pemikiran Foucault bahwa siapa yang mempunyai pengetahuan dia yang berkuasa. Diskursus kecepatan ini otomatis berdampak pada bergesernya bentuk-bentuk kekuasaan dimana keduanya saling mempengaruhi satu sama lain menentukan manner dari sebuah budaya. Budaya yang dilatarbelakangi dengan dromologi ini adalah budaya visual.

Berdasarkan Piliang dalam pemikiran Foucault dan Baudrillard kekuasan dipegang oleh kelompok tertentu bukan dari pusat ke pinggiran, melainkan dari kelompok-kelompok ekonomi, sosial dan budaya ke masyarakat yang heterogen. Kekuasaan bukan lagi oleh kaum ningrat dengan kaum proletar sebagai yang dikuasai, tapi telah terpecah-pecah ke dalam kelompok-kelompok kecil yang plural, atau sub kultur. Kelompok-kelompok ini kemudian saling bersaing satu dengan yang lain, menurut Piliang dalam Baudrillard mereka punya kemampuan untuk mengkonsumsi secara berlebih dalam rangka untuk memperoleh hegemoni. [2]


[1] James, I. (2007). Speed: Dromology, speed-space and light-time. In I. James, Paul Virilio (pp. 29-44). London: Routledge. [2] Piliang, Y. (2010). Simulasi. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 125-130). Bandung: Matahari.

Kekuasaan yang diproduksi dari kelompok-kelompok ini adalah kekuasaan yang menghasilkan kesenangan, pengetahuan dalam diskursusnya, kekuasaan dalam tingkat menghasilkan hasrat, bukan represif melainkan menurut Foucault sebagai perangsang yang efektif, yang menyentuh langsung tubuh, rambut, make up, pakaian gaya hidup-fetis[1] dan hal inilah yang dipraktekkan oleh Diana Rikasari melalui kendaraan dromology.

Kekuasaan diproduksi dari tindakan mengkonsumsi sebagai manifestasi dari kebutuhan akan diferensiasi yaitu perubahan terus menerus terhadap produk, penampakan dan gaya akibat penyingkatan durasi perubahan dan daur hidup oleh produsen membuat masyarakat consumer ini menjadi apa yang Lacan sebut sebagai schizophrenic. Masyarakat ini melahap apa saja didepannya karena terlalu banyak pilihan, yang datang dan pergi, yang ditampilkan dan dilupakan. Akibatnya tidak ada kedalaman, tidak ada esensi yang ada hanya banyaknya penampakan.[2]

Konsumsi menurut pandangan Hegel dalam Piliang dapat dipandang obyekyifikasi subyek, yang dalam penelitian ini digunakanuntuk menjelaskan apayang melatar belakangi kebutuhan Diana untuk terus mendeferensiasikan dirinya, yaitu sebuah proses ekternalisasi dan internalisasi diri lewat tontonan menggunakan sosial media. [3]


[1] Piliang, Y. (2010). Diskursus Post-modernisme. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 101-114). Bandung: Matahari.[2] Piliang, Y. (2010). Konsumerisme Skizofenik. In Y. Piliang, Semiotika dan hiper semiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 141-145). Bandung: Matahari.[3] Piliang, Y. (2010). Obyektifikasi dan Masyarakat Konsumer. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 139-141). Bandung: Matahari.

Pengetahuan dan kekuasaan

Masyarakat menggunakan media untuk mendapatkan informasi, entertainment, atau untuk edukasi. Masuknya teknologi informasi maka eksistensi mereka semakin nyata dalam kehidupan mereka, dengan riuhnya segala bentuk informasi, edukasi dan entertainment yang bercampur aduk di dalam jaringan dan distribusinya begitu cepat mereka menemukan kemudahan mencari, menemukan hiburan yang endless dan ubiquitous. Ketika anda terhubung dengan Instagram maka otomatis anda juga terhubung dengan blog, dan menggunakannya untuk subsribe menjadi member apapun. Di Instagram atau blog dengan geo tag orang lain dapat melihat anda, kemana anda pergi, apa yang anda makan, dan bahkan dimana anda tinggal, dsb. Inilah yang merupakan representasi dari kekuasaan atas anda. Disisi lain Apabila Paul Virilio menyatakan yang cepat tahu maka yang berkuasa, masyarakat kontemporer ini selain memproduksi informasi seperti contoh diatas, mereka juga berlomba-lomba untuk mengkonsumsi informasi. Kontras dengan hal ini golongan masyarakat yang tidak terjamah oleh jaringan infrastruktur internet atau yang tidak memiliki modal model konsumsi masyarakat kontemporer sekarang akan tergilas, terkena seleksi alam. [1]

Anda  mendapatkan kekuasaan dari foto-foto yang ada upload di sosial media: lewat konsumsi anda dapat memproduksi informasi ini. Mengupload foto barang-barang belanjaan, foto diri sedang berpose dengan pakaian-pakaian bermerk. Makna foto kemudian bukan hanya sekedar foto namun bisa berarti sebagai indeks dari status, kelas, modal popularitas dsb. Adalah Diana Rikasari yang mewakili modern society di era informasi yang serba cepat. Diana telah mengolah informasi ini menjadi sebuah komoditi dalam sosial media.


[1] Thomas, L., & Wareing, S. (2000). Language, Society and Power An introduction. New York: Routledge.

Model konsumsi masyarakat modern dan kekuasaaan

‘aku mengkonsumsi maka aku ada’. Membeli dan memiliki memberikan rasa mengontrol. Bagi Baudrillard hal ini merupakan kesemuan, sebenarnya melalui obyek-obyek yang Diana konsumsi, ia sedang dikontrol.[1] Ia hidup didalam irama sirkulasi konsumsi dengan siklusnya yang terus menerus berputar yang di dorong oleh ketidakpuasan abadi untuk menjadi yang sempurna. Antara ekstasi mengontrol, ekstasi mencipta dengan kesemuan yang disembunyikan secara rapi oleh sang kekuasaan mutlak (pemilik modal, produsen pakaian, produsen tas, produsen sosial media, dan penguasa jaringan infrastruktur internet) antara ia dan ketidak berdayaan dirinya untuk terus dikontrol, itulah cerminan dari masyarakat flux, masyarakat dromology.

Model konsumsi masyarakat digital, apabila menurut Piliang masyarakat  konsumer maka masyarakat ini sebenarnya juga memproduksi atau yang diistilahkan Nathan sebagai masyarakat  prosumer.[2] Ia memproduksi diferensiasi dalam rangka untuk mendapatkan kekuasaan lewat konsumsinya dalam tontonan. Diana termasuk kelas, atau subkultur yang bukan dari golongan bangsawan-apabila disamakan dengan model kapitalisme awal-tapi justru dari eksistensi kelas inilah kekuasaan yang influential hadir.

Model kekuasan masyarakat kontemporer ini tidak lagi terletak di para pemegang modal yang menguasai kaum buruh seperti pada jaman kapitalisme tapi ia peripheral dari kaum pinggiran ke kaum elit, kaum pinggiran ini adalah subkultur yang mendapatkan kekuasaan mereka ,jumlahnya banyak dan beragam. Pada akhirnya mereka mempengaruhi yang tengah, dan Diana termasuk salah satunya.[3] Para fashion blogger (high profile figures) mendapatkan ketenaran dan berhasil mempengaruhi golongan yang lain, konsekuensinya yang tidak memiliki akses mudah ke media menjadi powerless.[4]

Gambar 1. Diana Rikasari dengan tas Furla, dan Sony Walkman edisi Hello Kity
Sumber: Rikasari, D. (2007, Maret). Hot Chocolate and Mint. Retrieved Mei 18, 2013, from Hot Chocolate and Mint: http://dianarikasari.blogspot.com/

[1] Piliang, Y. (2010). Konsumerisme Skizofenik. In Y. Piliang, Semiotika dan hiper semiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 141-145). Bandung: Matahari. [2] Jurgenson, N. (2011, September 12). The Society Page: Prosuming Identity Online. Retrieved Mei 17, 2013, from The Society Page: http://thesocietypages.org/cyborgology/2011/09/12/prosuming-identity-online/[3] Piliang, Y. (2010). Simulasi. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 125-130). Bandung: Matahari.[4] Thomas, L., & Wareing, S. (2000). Language, Society and Power An introduction. New York: Routledge.

Makin cepat ganti gambar di blog, di Facebook, atau Instgram, makin banyak komen, maka seseorang semakin eksis, dan semakin punya kekuasaan untuk menjadi trendsetter, dicari, dibutuhkan bahkan untuk kasus Diana, ia menjadi semacam primadona bagi produsen, dengan menjadikannya endorser produknya. Menurut Heidegger dalam Piliang, eksistensi Diana di dalam ruang mengalami perubahan mendasar dari sebentuk tubuh yang bergerak didalam ruang menjadi sebentuk tubuh yang diam ditempat yang meleburkan dirinya ke dalam dunia citraan. [1]

Konsumerisme skizofrenik. Ia menopengi dirinya dengan barang-barang konsumtif, terlalu banyak tanda, terlalu banyak gaya didunia cyber, Tanpa mengkonsumsi ia tidak lebih hnya sekedar gadungan (powerless)

Implosi pengetahuan

Diana adalah salah satu contoh dari generasi flux, generasi yang terkena implosif informasi. Informasi berada mengelilingi dia sehingga probablilitas dan posibitlitas dalam menggunakan dan memanfaatkan informasi tersebut menjadi tak terhingga dalam menghasilkan. Generasi flux tidak memiliki kedalaman dalam pemikiran mampu menyerap bnyak informasi seperti layaknya jurnalis tapi pendalamannya tidak terfokus. Semua praktek kehidupanya didasarkan pada kecepatan: kecepatan mengunggah foto, kecepatan memproduksi informasi, kecepatan memotret, kecepatan mengedit dan memanipulasi foto, karenanya ia juga adalah fotografer flux.[2]

Foto-foto citraan Diana di etalase blog atau Instagramnya menjadi tontonan yang silih berganti dengan cepat seolah menyerah tak berdaya (powerless) terserap dalam tempo kehidupan yang cepat. Lenyap ditelan kecepatan dan dilupakan.


[1] Piliang, Y. (2010). Nietzsche, Heidegger dan Postmodernisme. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 76-85). Bandung: Matahari. [2] Piliang, Y. (2011). Kekuasaan/kecepatan. In Y. Piliang, Dunia yang dilipat (pp. 81-88). Bandung: Matahari.

 Praktek kekuasaan

Kekuasaan pada akhirnya datang dari kumpulan orang kelas, sub kultur. ‘It’s a collective product. We create power by acting together’. Kekuasaan di era digital ini bukanlah bersifat repressive dan coercive, tapi punya daya tarik magis yang begitu mempengaruhi sehingga kita tidak sadar sudah dikontrol olehnya. Apa yang dilakukan Diana adalah ‘promosi’ terus-menerus dengan tema besar skenario ‘the perfect lifers’ menyediakan ekstasi kesenangan dalam tontonan yang membangun loyalitas sehingga menimbulkan pemujaan. Masyarakat menjadi fetis terhadapnya dan hanyut dalam control kekuasaannya.

Diana mempunyai referent power yaitu kemampuan seseorang untuk menarik orang lain  dan membangun loyalitas dengan kharisma dan kemampuan interpersonalnya. Menurut piliang kekuasaan yang dipraktekkan Diana adalah kekuasaan yang menghasilkan kesenangan, dan memproduksi pengetahuan, sifat inilah yang menjadikannya selalu dianggap positif, diterima dengan senang hati. Kekuasaan ini menghasilkan objek-objek hasrat.[1]

Obyektifikasi subyek

Dalam jaringan cyber, individu sangat diatur oleh diskursi (wacana) yaitu bahasa, media, iklan, televisi, dan film menjadi possessed individual.[2] Individu menjadi bergantung, pasif, tidak berdaya, dan terseduktif oleh hegemoni wacana-wacana tadi (karena melakukan praktek-praktek wacana), sehingga entitas manusia tidak lebih dari sebuah wacana,[3]  dalam kasus Diana, ia mempromosikan dirinya melalui identitas yang ditampilkan dalam foto-fotonya dalam blog dan Instagram. Manusia dicetak oleh foto, yang berarti foto mengatur diri manusia dalam kasus Diana.

Gambar 2. Sintaks dari album foto Instagram Diana Rikasari.
Sumber: Rikasari, D. (2010, Oktober). Dianarikasari. Retrieved Mei 9, 2013, from Instagram: http://instagram.com/dianarikasari#

Dalam budaya informasi teknologi yang serba cepat hubungan ini berubah menjadi hanya sebatas obyek dengan obyek. Subyek terobyektifikasi. Daniel Miller menjelaskan maksud hegel tentang hubungan subyek dengan obyek. Proses ganda yang melaluinya subyek mengeksternalisasi dirinya melalui tindakan kreasi diferensiasi:penciptaan obyek-obyek,dan mengembalikan diri (menginternalisasi) melalui tindakan sublasi (pemberian pengakuan) dengan mengkonsumsi. Dalam pemenuhannya ia merasa tidak puas dan membandingkannya dengan pengetahuan yang tidak ada habisnya, hasrat akan sebuah obyek bukan karena kekurangan yang dimilikinya tapi hasrat yang ia produksi dan reproduksi sendiri[4] sehingga muncul ketidak puasan abadi untuk menjadi sempurna, untuk mengejar kesempurnaan membangkitkan motivasi untuk terus mengkonsumsi (dihegemoni rasa haus untuk mencipta) dan memproduksi reference power dalam tontonan: ketika orang-orang melihat dia memakai tas atau jam baru, mereka ingin ikut memiliki, atau fotonya pada saat berolahraga semua orang ingin berolahraga, ia menciptakan tren dan menjadi panutan. Eksistensi Diana dinyatakan dalam praktek kekuasaan sebagai pencipta yang tidak pernah puas dalam mengekspresikan dirinya melalui promosi diri lewat tontonan.

Kesimpulan

Diana tidak seketika langsung mendapatkan kekuasaan untuk mengontrol lewat sosial media, melainkan melalui proses praktek dan konvensi yang dilakukannya dalam waktu yang lama, sejak tahun 2007 ia aktif menjadi blogger, kemudian Instagram. Dengan menyediakan infotainment ia menciptakan ketidaksadaran kolektif bagi audiennya membangun kepercayaan dan loyalitas. Tontonan yang diproduksinya melalui proses editing sedemikian rupa: tampilan, pose, pemilihan wardrobe, redaksi dan sebagainya-how the story gets told, tapi disisi lain ia juga terhegemoni karena dalam rangka untuk memproduksi tontonan tersebut ia harus juga mengkonsumsi, hubungan timbal balik ini jugalah yang menghasilkan kekuasaan, karena kekuasaan bukan obyek melainkan merupakan hasil dari relasi kolektif melibatkan Diana, industri media, industri barang-barang ekonomi: barang-barang yang dikonsumsi, industri software, diskursi teknologi, dan segala yang terlibat pada saat praktek dan konvensi dalam budaya kontemporer ini.


[1] Piliang, Y. (2010). Diskursus Post-modernisme. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 101-114). Bandung: Matahari. [2] Kuliah Isu Kontemporer dalam Desain : Kognitariat oleh Yasraf Amir Piliang 4/2/2013 [3] Foucault, M. (2002). The Order of Things. London: Routledge. [4] Piliang, Y. (2010). Konsumerisme Skizofenik. In Y. Piliang, Semiotika dan hiper semiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 141-145). Bandung: Matahari.