Category Archives: Article

Meeting Up with Embran Nawawi

Call of duty preparing curriculum  for fashion program under the Visual Communication Design  department brought together me and Embran Nawawi along with my colleges at Petra Christian University where I work. The program will be opened in 2017 as well as the new building-called P2 on the west side of P building-operate next year..
During the conversation with the multi talented Embran I learnt a lot about fashion..the craft and textile graduate explained so much on how fashion design today should be brought to creative industry and that Indonesian designers should understand thoroughly about tradition or heritage to be on  his/her work as an emphasis, not just as a banal creation..it has to have values.
And about the sustainability fashion as a theme for our fashion program, he opened my eyes that being ‘sustainable’ wasn’t  only about economy or Eco design with zero waste and no chemicals added. It was beyond than that, for example batik coloring, batik with a good quality color tended to have a chemical processes behind it, the chemical mixing color would enhance the tint on batik, yet it’s more economical. Batik with natural dyeing such as black indigo or orange from Mengkudu fruit will be tagged for a higher price, yet to deliver it  is surprisingly not environmental friendly at all. It could take many trees and other important natural resources  to be cut and crushed just to dyeing very little amount of fabric, imagine how many trees and soils  we destroy if we wanted to dye more material? He continued. Such information these ‘go green’ activists never share to us..after all this time I thought that being green was to stop using chemicals at all..I didn’t think that far, all I knew was the ‘propaganda’ of natural dyeing against the chemical one.’

Natural dyeing with black bean
Dip dyeing process

Anyway as for fashion design curriculum he told us to prepare with credible lecturers who knew well about fashion, it’s core concepts and trend forecasting, off course one of them would definitely be mas Embran himself, hehe…how cool is that to have him as a lecturer of fashion design Petra Christian University.

Embran Nawawi batik designer (C) shows new innovation of Maduranese stamp batik collection on October 1, 2013 in Surabaya, Indonesia. UNESCO give recognition and formally endorsed Indonesian Batik as a World Cultural Heritage on October 2, 2009 and the date used as the Batik Day. Courtesy of www.zimbio.com

My next task is to make a power point presentation, brought all the knowledge above-sustainable fashion, creative industry and traditional textile, include the curriculum  on to the slides. I’m gonna make that very each slide bombastic, tantalizing and awesome enough so that the foundation will be more convinced to activate fashion design department soon.

 

Any useful information about dip dyeing and batik is to log on to http://www.thelanguageofcloth.com/

’12:12 ONLINE FEVER’ THE BIGGEST SHOPPING EVENT IN SOUTHEAST ASIA

12:12 Online Fever at ZALORA-the one stop fashion online shop supported by the number of trusted e-commerce-offers you a lot of great deals for shopping online up to 84% JUST FOR TODAY, on 12th December 2014.

Don’t miss the deals: the buy 2 get 20% off for any ZALORA-labeled products, flats vs wedges start from 100,000 IDR, Big Bang Deals up to 84% and MANY MORE

banner2Moreover, there will be a lot of discount up to 70% from your favorite brands, such as Nike and Vans as well as Billy Tjong for ZALORA.

Not stopping there, this-New Year gift ZALORA presented to YOU all the shopaholic fashionistas and to YOU the loyal customers-giving you extra ‘easiness’ in experiencing shopping online with COD, 30 days-cash back guarantee and same day delivery, only for 50,000 IDR.

Today, 12th December 2014  12:12 Online Fever at ZALORA is now HAPPENING in 7 countries across South East Asia, all day long till midnight- the National Online Shopping Day #HARBOLNAS #ONLINEFEVER

Keep surfing and happy shopping guys!

 

Design based on Culture: Indonesia’s new industrial revolution

Revolusi dalam teknologi

Teknologi awalnya adalah semacam alat untuk membantu manusia dalam menyelesaikan persoalan. Di jaman purba teknologi lahir dari pemikiran manusia untuk menguliti binatang buruan, manusia menghasilkan teknologi berupa sistem bercocok tanam, dijaman revolusi industri eksistensi teknologi bahkan semakin nyata, sehingga manusia dan teknologi menjadi saling bergantung satu dengan yang lain . Eksistensi teknologi dipengaruhi manusia begitu juga sebaliknya. Berdasarkan pemikiran Paul Virilio dalam “Speed and Politics”, limit kecepatan atau yang diistilahkan sebagai dromology, telah menjadi dasar acuan teknologi. Teknologi dikembangkan dalam rangka untuk mempermudah, mempercepat, dan dimensinya makin lama semakin  mengecil-sekecil nano. Menurut Imam Buchori dalam bukunya ‘Wacana Desain’ teknologi telah menciptakan kemajuan pesat dibidang konstruksi, transportasi, mesin, kedokteran, pertanian, material, dan informasi.  Informasi sekarang berbentuk jaringan yang ubiquitous (saling terhubung), terjadi percepatan informasi yang menyusutkan ruang dan waktu. Untuk mendapatkan pengetahuan tidak perlu lagi ke perpustakaan tapi cukup dicari lewat google, dalam waktu yang singkat pengetahuan bisa didapatkan sebanyak-banyaknya. Memotret, mengedit dan mengunggah foto dapat dilakukan sekaligus, hanya perlu point-shoot-share lewat hape, ada virtual shopping, QR code, komputer dalam bentuk tablet,  green building, roof garden, melakukan operasi dibantu dengan robot dsb. Akhirnya terjadilah kreatifitas dimana-mana, akibat adanya implosi pengetahuan dari dampak teknologi informasi seseorang mampu menjadi generasi flux, instant generation, instant entrepreneur, instant selebrity dan bahkan instant scholar, sementara di sisi lain di tengah masyarakat Indonesia masih banyak pengamen jalanan pengangguran, pegemis-pengemis yang hidupnya bergantung dari hanya sekedar meminta-minta, pasif tidak berkreatifitas, atau suku-suku pedalaman seperti suku korowai di Papua Barat yang begitu primitif yang terisolir dari riuhnya industrialisasi dan tidak tersentuh teknologi apalagi globalisasi.

Kehidupan kini begitu kompleks, ada yang dipercepat  sementara yang tidak memiliki akses pada teknologi akan ketinggalan, kota-kota besar versus kota-kota kecil, antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang, maka tidak heran Indonesia dengan negara-negara besar seperti Amerika, Australia, Finlandia, Jepang dll juga terjadi gap yang begitu besar. Indonesia serasa berada 100 tahun tertinggal dibelakang mereka. Sebenarya bukan berarti Indonesia tidak memiliki akses terhadap teknologi ini, namun ada beberapaa faktor lainnya yang juga mempengaruhi besarnya jarak ini. Seperti yang dikemukakan oleh Adi Panuntun, yaitu ekonomi, policy dan kebudayaan. [1]

Ekonomi memang menjadi masalah utama bagi Indonesia. Ridwan Kamil dalam kuliah desain dan berkelanjutan menjelaskan topografi perekonomian masyarakat Indonesia, yang sebenarnya dikuasai oleh kaum buruh, masyarakat menengah kebawah sedangkan yang menengah keatas jumlahnya lebih sedikit, sehingga bentuknya seperti piramid dengan kelas menengah kebawah dibagian bawahnya.[2] Ekonomi dengan teknologi berjalan linear, artinya semakin mutakhir teknologi akan dibutuhkan banyak biaya, contoh saja seperti penemuan baru di bidang kedokteran yaitu operasi yang dilakukan dengan bantuan robot, smart car dengan listrik, giant wind mill yang menelan biaya fantastis. Tapi tidak selalu teknologi harus mahal, seperti pernyataan Tita Larasati dalam perkuliahan desain berkelanjutan, sebuah kursi bahkan dapat didesain dengan bahan bekas, atau anda juga bisa membuat wind mill sendiri juga dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Di negara berkembang lainnya seperti Afrika dengan permasalahan kesulitan air bersihnya yang harus didapatkan dengan berjalan berkilo-kilo meter jauhnya, yang ternyata dapat terselesaikan dengan desain. Sebuah sepeda pengangkut air yang ketika dikayuh dapat sekaligus membersihkan airnya tentu saja dengan harga yang terjangkau.[3]

 


[1] Panuntun, A. (2013). Design Thinking: Video Mapping. Bandung.

[2] Kamil, R. (2013). Desain berkelanjutan. Bandung.

[3] Larasati, D. (2013). Kuliah desain berkelanjutan. Bandung.

 

Kebijakan

Di Indonesia, wacana desain masih tergolong baru. Teori-teori yang didalamnya menyangkut desain seperti semiotika, cultural studies baru populer sekitar 10 tahun terakhir. Sejalan dengan itu yang kaitannya dengan desain selalu tunduk pada aturan di Indonesia yang sepertinya seringkali tunduk pada capital, kebijakan menjadi  tidak begitu ramah terhadap desain. Misalnya keberadaan public space sebagai jantung kegiatan kebudayaan masyarakat Indoensia yang ironisnya justru hilang digantikan oleh mal, kawasan tempat tinggal, apartment dll. Menurut Tita Larasati butuh keberanian dan usaha yang ekstra untuk melindungi atau memberdayakan publik space yang sekarang juga makin lama makin menyusut. Bagi Adi Panuntun hal ini merupakan titik tolak pemikiran desainnya, dengan video mappingnya ia bisa memberdayakan lagi public space dan berhasil menembus kebijakan-kebijakan pemerintah kota.

Gambar 1. Video mapping yang dilakukan oleh Adi Panuntun di museum Fatahilah menghidupkan kembali ruang public. Sumber: Vimeo

Kebudayaan

Menurut Imam, kebudayaan masyarakat kita sedang mengarah pada kebudayaan industrial, dengan perilaku masyrakatnya yang kolektif, dengan mentalitas agrarisnya, maka ada istilah ‘mangan ora mangan sing penting kumpul.’ Hal ini sebenarnya dapat dipahami karena seting perekonomian di Indonesia belum stabil, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, pendapatan perkapita yang masih tergolong rendah dan sebagainya, sehingga kumpul-kumpul atau bercengkrama dilakukan dalam rangka untuk melepas stres. Kesimpulannya, pembentukan perilaku bisa diakibat oleh turut andilnya teknologi dalam segala sendi kehidupan sehingga menjadi budaya dan akhirnya membentuk genetik kita.[4] Ketika kita melihat negara-negara seperti Singapura atau negara-negara maju lainnya, dimana kecepatan menjadi ukuran kinerja maka tidak ada lagi waktu kumpul-kumpul atau santai sejenak, dll.

Selain itu menurut Imam ada budaya imitasi dan budaya impor dengan maraknya boy band, boy girl Korea ‘gadungan’ seperti Smash, Cherrybell, dan 7 icons. Kebudayaan Korea ini diimitasi dan mendiaspora begitu kuat di Indonesia, budaya imitasi juga terjadi ketika produsen satu memproduksi produk lalu besoknya produsen lain juga membuat produk yang sama. Satu orang buka warung nasi padang yang lainnya ikut buka warung menjual masakan yang sama. Hal-hal ini memang sudah membudaya tapi dengan dipermudahnya teknologi, mestinya kita sebagai desainer lebih kreatif dan lebih peka, sehingga desain yang kita hasilkan tidak sekedar mengimitasi melainkan menjadi desain yang inovatif, desain yang beyond. Seperti Singgih dengan desain radio Magno yang orisinil, bahkan dapat menjadi penopang perekonomian, melestarikan budaya kriya sekaligus lingkungan disekitarnya.[5]

 


[4] Buchori, I. (2013). Kuliah teori desain. Bandung.

[5] Kartono, S. S. (2013, Mei 16). Retrieved 2006, from Woden Radio: http://www.wooden-radio.com/

 

Gambar 2. Radio Magno dari bahan kayu yang ramah lingkungan. Kayu ini ditangkarkan sendiri oleh Singgih melibatkan masyarakat sekitar desanya.

Sebagai desainer kita harus peka memanfaatkan dromology of knowledge istilah yang dikemukakan Paul Virilio ini untuk menciptakan desain yang dapat masuk kedalam latar belakang Indonesia yang bisa diterima secara ekonomi, policy, lingkungan, dengan menjadi kreatif seperti mobil bumble bee tapi didalamnya ternyata sepeda, dengan peka melihat apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan konsumen seperti yang di Afrika dengan masalah air sulit maka diciptakan sepeda pengangkut air yang apabila dikayuh otomatis akan membersihkan airnya, teknologi hipoklorit ini sebenanya juga telah dikembangkan di Indonesia seperti yang diciptakan Imam Buchori[6], melihat kebutuhan air bersih di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh radio magno yang sebelum ini dibahas, yang disebut sebagai beyond design, merupakan salah satu praktek dari design thinking yang mencakup ekonomi, budaya, policy, sampai menyentuh isu lingkungan.

 


[6] Buchori, I. (2010). Wacana Desain. Bandung: ITB .

 

Gambar 3. (kiri) Water project di Afrika untuk menanggulangi masalah sulitnya mencari air bersih. (kanan) desain generator hipoklorit untuk kebutuhan rumah tangga oleh Imam Buchori.

Produksi radio magno melibatkan tenaga kerja lokal didesanya  dengan memberdayakan tenaga kerja muda mempraktekkan  sistem manufaktur baru yaitu tetap mempertahankan  kemampuan kriyanya-local genius dengan sistem kinerja yang lebih terartur, orang-orang yang bekerja bisa berkumpul bersama, saling guyub sesuai dengan kebudayaan Indonesia.  Selain itu menggunakan bahan mentah kayu yang ditangkarkan sendiri ditanam sendiri jadi dia juga menghijaukan desanya, produk ini juga melibatkan konsumennya dalam hal perawatan sehingga diharapkan produk ini awet dan tidak terjadi penumpukan limbah karena konsumsi produk yang berlebihan tanpa ada solusi daur ulang. Penanaman pohon-pohon ini selain memberdayakan masyarakat juga melibatkan anak-anak di sekolah di desanya, bahkan menjadi sudah kurikulum pelajaran mereka yang berarti juga menyentuh policy pendidikan disana. Hasil dari penjualan radio magno djuga digunakan untuk menghidupi perekonomian di desanya. Desain magno mempertimbangkan segala aspek ekonomi, budaya, lingkungan sampai ke policy

Contoh lain adalah desain yang daur ulang, seperti tren yang diprediksi Irvan muncul kembali  merespon dari kekompleksan ini.[7] Ini yang dilakukan oleh Philippe Strack [8] yang baginya desain itu seharusnya bisa terbeli oleh segala lapisan, desain harus demokratis, maka ia membuat desain kursi dari bahan-bahan bekas yang diberikan secara gratis. Sebenarnya ini bisa diterapkan di Indonsia bahkan mungkin sudah tapi kurang menyeluruh, ada manufaktur pembuatan keset atau tas dari enceng gondok atau  tas dari limbah kemasan mi instan dan sabun cuci pakaian tapi sejujurnya ketika melihat produknya, ternyata tampilannya tidak menarik, meskipun usahanya untuk membuat produk yang fungsional, dari bahan daur ulang dan low cost (desain demokratis) patut dihargai tapi produk ini butuh ditempatkan dalam ruang desain bukan hanya sekedar industri manufaktur. Hal ini yang masih menjadi tugas bagaimana desain dapat mengemas dan membawa produk-produk seperti ini agar laku dipasaran dan lebih dari itu bisa membawa dampak positif bagi mereka.

Bisa juga dengan desain yang mampu mempengaruhi bagian bawah sadar otak, dengan memanfaatkan ketertarikan kesenangan untuk menjadikan hasil desain kita dilihat diingat dan mengendap serta dibiasakan dan menjadi budaya yang dibelakang itu tentu saja ada pemikiran yang beyond tentang desain, tidak hanya sekedar memproduksi barang untuk dikonsumsi, tapi memikirkan desain sebagai sesuatu yang menyenangkan yang bisa dipraktekkan seperti diatas. Seperti yang sudah dibahas diatas adalah Adi Panutun dengan video mapping-nya menanamkan cerita menembus policy kota, mampu menghidupkan kembali public space, bangunan-bangunan penting dikota yang sudah ditinggalkan, sehingga menjadi sebuah deasin yang menyenangkan. Tentu saja andilnya teknologi sangat besar disini.

Kesimpulan

Kita sebagai desainer harus bisa memanfaatkan teknologi ini dengan mempertimbangkan latar belakang budaya ekonomi dan policy di Indonesia. Melalui desain thinking menghasilkan desain yang demokratis, yang ramah, yang merangkul Indonesia. Teknologi dalam desain tidak harus mahal, dengan ‘mendaur ulang‘ atau seperti yang dikemukakan oleh Irvan sebagai slow desain, seperti wind mill bisa dikreasikan dari barang-barang bekas, dengan demikian teknologi dalam desain ini terbeli serta dampaknya terhadap lingkungan juga baik. Dengan kata lain desain demokratis yang menerapkan apa yang Imam sebut sebagai local genius sesuai dengan techno culture. [9]

Janganlah kita kemudian menutup diri, atau mengisolasi diri dari teknologi supaya identitas diri tetap terjaga-karena teknologi sendiri yang merupakan ciri khas dari globalisasi melalui kendaraan informasi memang tidak bisa dihindari, justru sebagai desainer mengawinkan generalisasi globalisasi yang tidak melihat nilai tradisi, agama dan adat istiadat-melainkan yang berinti pada kecanggihan, kemudahan, dan kecepatan-dengan local genius Indonesia agar dapat sinkron dan sejalan, serta dapat diterapkan dan diterima, sehingga mempunyai nilai estetis, kebaruan sebagai desain dan dapat berguna bagi kehidupan, khususnya masyrakat Indonesia.

 


[7] Irvan, N. (2013). Mebel menguasai pasar memahami trend dan kekuatan desain. Bandung.

[8] Larasati, D. (2013). Kuliah desain berkelanjutan. Bandung.

[9] Buchori, I. (2010). Wacana Desain. Bandung: ITB .

 

 

 

 

The spectrum

rainbow

Light is radiation. It is radiation that human eye can see, but it’s only one small band in the entire electromagnetic spectrum that consist of a range of wavelenghts, from short to long, which includes gamma radiation, X-rays, radar, and radio. The human eye is sensitive to a narrow band of wavelenghts of between 400 and 700 nanometers (nm).

The small range of visible wavelenghts contains a variety of effects. the eye sees these small differences as different colors. the shortest visible wavelenghts is violet and the longest one is red. in between are the familiar colors of spectrum, of which the eye can normally distinguish seven definite hues. They only exist only in our  eye and mind, however the light waves themselves are not colored. The best we can do with light is to see the mixture of wavelenghts as one color. We perceive all of them mixed together as white.  The neutrality of white occurs because our eyes evolved under it-the color of the midday sun. Light & lighting (Michael Freeman)