Tag Archives: Virtual Reality

Je Ne Sais Quoi “Kotakukotakita” Exhibition at House of Sampoerna part 1

Je Ne Sais Quoi is an expression to describe something that someone really attached to it and become so hopelessly fascinated that he/she ‘s not able to explain what’s ‘the thing’ that makes something so special..A depression in a good way, it also means that when something is so wrong it’s right.

The Jargon above  is probably familiar in the context of Fashion. it almost a coincidence I read this savy pocket book-I forget the title was- and all of sudden this France phrase got me attention..Je Ne Sais Quoi then became the name of my artwork this year, in an venture of Visual Communication Design department and House of Sampoerna celebrated 274th Surabaya anniversary on May 2017. Kotakukotakita is the big theme that’s going to bring this exhibition to the next level.

Some of the art pieces are interactive and in advance of technology. There will be an optical illusion playing with shadows and lights projected onto 3D model city scape of Surabaya, another art work is a mini sculpt molded through Blender (3D animation engine) and run into a 3D printing. Mine is mindblowingly goes side by side with the other two ‘back to the future’ works, a-virtual reality-scape showing Tunjungan Plaza Surabaya  in 360 panoramic view,  along side these there exotic-skinned fashion figures posing fiercely through the lens of Google cardboard. One can experience being inside the environment and seeing the 3D model of Tunjungan Plasa city scape but in a fashionable way.

Je Ne Sais Quoi Google Cardboard

Imitating the model pose while loading all the artwork for the exhibition at House of Sampoerna

Scan the QR code on the poster within my artwork and download the VR-scape on your phone. Place the phone in the Google cardboard, activate it and Voila!! step into the VR environment.

I’ll update you guys latter..see you on the  next report about the press con followed up with the opening.

 

 

 

 

 

 

“GAINING POWER THROUGH GAZE” POWER DI DALAM MASYARAKAT KONTEMPORER STUDI KASUS: FOTO FACEBOOK, INSTAGRAM DAN BLOG DIANA RIKASARI

ABSTRAK

 

Percepatan informasi menjadi sebuah wacana dalam budaya kontemporer saat ini, dimana teknologi informasi telah berkembang pesat menyusutkan ruang dan waktu akibatnya masyarakat dan praktek sosialnya pun juga berubah. Hal ini sebenarnya telah dikritisi Paul Virilo dalam bukunya Speed and Politic, informasi kini dapat diperoleh secara real time melalui jaringan internet, menggantikan kegiatan membaca di perpustakaan seperti pada jaman budaya literature dahulu. banyaknya informasi, bahkan dapat sekaligus kita dapatkan diwaktu bersamaan, saling overlap, cepat datang dan cepat pergi, maka sifatnya hanya dilihat lalu dilupakan, inilah budaya visual dijaman yang serba cepat.

Fenomena ini juga mengubah relasi kekuasaan yang terjadi didalamnya, seperti yang dikemukakan oleh Foucault. Kekuasaan tidak lagi berbentuk antara ‘majikan’ dan ‘pelayan’, melainkan virtual, tidak lagi coercive melainkan terselubung. Kemasannya berupa ajakan, seperti sesorang dengan kecanduannya terhadap ekstasi, begitu mengikat dan tak berdaya dihegemoni oleh rasa kecanduannya terhadap ekstasi. Ekstasi tontonan, itulah yang dicari masyarakat dalam budaya visual ini, sehingga bukan lagi power/knowledge hanya tapi sekarang juga power/speed lewat tontonan.  Bertolak dari Virilo dan Foucault serta model konsumsi tontonan dalam masyarakat kontemporer akan diidentifikasikan  sebuah relasi kekuasaan yang dipraktekkan oleh Diana Rikasari via sosial media, seorang fashion blogger yang begitu berpengaruh di media.

Kata kunci: kekuasaan, kecepatan informasi, tontonan, sosial media, Diana Rikasari

Pendahuluan

Diana Rikasari adalah seorang fashion blogger yang memiliki pengaruh terutama bagi perempuan remaja dewasa ini, ia menjadi semacam role model bagi mereka yang mendambakan kehidupan yang perfect. Berkat kiprahnya di sosial media, blog dan instagram, lewat tontonan yang eye candy, barang-barang bermerk yang dipakai, fashion untuk sehari-hari, warna kuku, make up, kuliner serta kisah enterpreuner yang inspiratif menjadikannya panutan, dipuja dan populer kemudian blogger-blogger lainnya pun bermunculan.  Dari sini kekuasaan mulai tampak yang mampu menyedot perhatian publik, Diana muncul diberbagai media dan diberbagai kesempatan, Di televise, Koran, majalah, radio serta acara-acara offline. Tidak hanya itu para produsen produk yg dipakainya juga menginginkan untuk mensponsori Diana dengan produk-produk mereka bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkannya tentu sebagai strategi menguasai pasar juga.

Bentuk kekuasan-kekuasan ini hadir didalam praktek-praktek sosial di jaman percepatan informasi ini. Bentuknya telah bergeser dari model kekuasaan kapitalis, dimana yang berkuasa adalah pemilik modal-sang tuan yang menguasai kaum buruh atau pelayan, menjadi apa yang dipraktekkan oleh Diana dalam pusaran diskursi kecepatan, informasi dan teknologi, lalu kekuasaan apakah itu? Bagaimana kekuasaan ini bisa terbentuk? Jika Diana memperoleh kekuasaan melalui unjuk tontonan salah satunya barang-barang bermerk, posenya dengan pakaian-pakaian, makanan yang merupakan bentuk konsumtif, maka ia memproduksi tontonan lewat konsumsi, ia butuh untuk mengkonsumsi agar dapat memproduksi. Berarti apakah ia juga sedang dikuasai oleh konsumerisme? Dalam penjelasan berikut ini akan digunakan teori Virilo dan Foucault sebagai dasar bertolaknya pemikiran peneliti untuk menjawab Pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui identifikasi relasi kekuasaan.

Teori-teori kekuasaan dalam dromology

Bertolak dari Virilio[1]  yaitu dromology, penelitian ini juga menggunakan prinsip pemikiran dalam melihat fenomena masyarakat posmodern yang hidup didalam diskursus kecepatan, bagaimana kemudian kecepatan mempengaruhi atau bahkan menentukan perilaku masyarakat tersebut. Sejak teknologi informasi berkembang menjadi ‘the last vehicle’ meminjam istilah dari Virillio yaitu internet dengan jaringannya yang memungkinkan kita mendapatkan informasi dengan real time, tidak ada yang lebih cepat lagi. Maka pengetahuan secara implosive mendatangi kita. Hal ini kemudian berkaitan dengan pemikiran Foucault bahwa siapa yang mempunyai pengetahuan dia yang berkuasa. Diskursus kecepatan ini otomatis berdampak pada bergesernya bentuk-bentuk kekuasaan dimana keduanya saling mempengaruhi satu sama lain menentukan manner dari sebuah budaya. Budaya yang dilatarbelakangi dengan dromologi ini adalah budaya visual.

Berdasarkan Piliang dalam pemikiran Foucault dan Baudrillard kekuasan dipegang oleh kelompok tertentu bukan dari pusat ke pinggiran, melainkan dari kelompok-kelompok ekonomi, sosial dan budaya ke masyarakat yang heterogen. Kekuasaan bukan lagi oleh kaum ningrat dengan kaum proletar sebagai yang dikuasai, tapi telah terpecah-pecah ke dalam kelompok-kelompok kecil yang plural, atau sub kultur. Kelompok-kelompok ini kemudian saling bersaing satu dengan yang lain, menurut Piliang dalam Baudrillard mereka punya kemampuan untuk mengkonsumsi secara berlebih dalam rangka untuk memperoleh hegemoni. [2]


[1] James, I. (2007). Speed: Dromology, speed-space and light-time. In I. James, Paul Virilio (pp. 29-44). London: Routledge. [2] Piliang, Y. (2010). Simulasi. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 125-130). Bandung: Matahari.

Kekuasaan yang diproduksi dari kelompok-kelompok ini adalah kekuasaan yang menghasilkan kesenangan, pengetahuan dalam diskursusnya, kekuasaan dalam tingkat menghasilkan hasrat, bukan represif melainkan menurut Foucault sebagai perangsang yang efektif, yang menyentuh langsung tubuh, rambut, make up, pakaian gaya hidup-fetis[1] dan hal inilah yang dipraktekkan oleh Diana Rikasari melalui kendaraan dromology.

Kekuasaan diproduksi dari tindakan mengkonsumsi sebagai manifestasi dari kebutuhan akan diferensiasi yaitu perubahan terus menerus terhadap produk, penampakan dan gaya akibat penyingkatan durasi perubahan dan daur hidup oleh produsen membuat masyarakat consumer ini menjadi apa yang Lacan sebut sebagai schizophrenic. Masyarakat ini melahap apa saja didepannya karena terlalu banyak pilihan, yang datang dan pergi, yang ditampilkan dan dilupakan. Akibatnya tidak ada kedalaman, tidak ada esensi yang ada hanya banyaknya penampakan.[2]

Konsumsi menurut pandangan Hegel dalam Piliang dapat dipandang obyekyifikasi subyek, yang dalam penelitian ini digunakanuntuk menjelaskan apayang melatar belakangi kebutuhan Diana untuk terus mendeferensiasikan dirinya, yaitu sebuah proses ekternalisasi dan internalisasi diri lewat tontonan menggunakan sosial media. [3]


[1] Piliang, Y. (2010). Diskursus Post-modernisme. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 101-114). Bandung: Matahari.[2] Piliang, Y. (2010). Konsumerisme Skizofenik. In Y. Piliang, Semiotika dan hiper semiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 141-145). Bandung: Matahari.[3] Piliang, Y. (2010). Obyektifikasi dan Masyarakat Konsumer. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 139-141). Bandung: Matahari.

Pengetahuan dan kekuasaan

Masyarakat menggunakan media untuk mendapatkan informasi, entertainment, atau untuk edukasi. Masuknya teknologi informasi maka eksistensi mereka semakin nyata dalam kehidupan mereka, dengan riuhnya segala bentuk informasi, edukasi dan entertainment yang bercampur aduk di dalam jaringan dan distribusinya begitu cepat mereka menemukan kemudahan mencari, menemukan hiburan yang endless dan ubiquitous. Ketika anda terhubung dengan Instagram maka otomatis anda juga terhubung dengan blog, dan menggunakannya untuk subsribe menjadi member apapun. Di Instagram atau blog dengan geo tag orang lain dapat melihat anda, kemana anda pergi, apa yang anda makan, dan bahkan dimana anda tinggal, dsb. Inilah yang merupakan representasi dari kekuasaan atas anda. Disisi lain Apabila Paul Virilio menyatakan yang cepat tahu maka yang berkuasa, masyarakat kontemporer ini selain memproduksi informasi seperti contoh diatas, mereka juga berlomba-lomba untuk mengkonsumsi informasi. Kontras dengan hal ini golongan masyarakat yang tidak terjamah oleh jaringan infrastruktur internet atau yang tidak memiliki modal model konsumsi masyarakat kontemporer sekarang akan tergilas, terkena seleksi alam. [1]

Anda  mendapatkan kekuasaan dari foto-foto yang ada upload di sosial media: lewat konsumsi anda dapat memproduksi informasi ini. Mengupload foto barang-barang belanjaan, foto diri sedang berpose dengan pakaian-pakaian bermerk. Makna foto kemudian bukan hanya sekedar foto namun bisa berarti sebagai indeks dari status, kelas, modal popularitas dsb. Adalah Diana Rikasari yang mewakili modern society di era informasi yang serba cepat. Diana telah mengolah informasi ini menjadi sebuah komoditi dalam sosial media.


[1] Thomas, L., & Wareing, S. (2000). Language, Society and Power An introduction. New York: Routledge.

Model konsumsi masyarakat modern dan kekuasaaan

‘aku mengkonsumsi maka aku ada’. Membeli dan memiliki memberikan rasa mengontrol. Bagi Baudrillard hal ini merupakan kesemuan, sebenarnya melalui obyek-obyek yang Diana konsumsi, ia sedang dikontrol.[1] Ia hidup didalam irama sirkulasi konsumsi dengan siklusnya yang terus menerus berputar yang di dorong oleh ketidakpuasan abadi untuk menjadi yang sempurna. Antara ekstasi mengontrol, ekstasi mencipta dengan kesemuan yang disembunyikan secara rapi oleh sang kekuasaan mutlak (pemilik modal, produsen pakaian, produsen tas, produsen sosial media, dan penguasa jaringan infrastruktur internet) antara ia dan ketidak berdayaan dirinya untuk terus dikontrol, itulah cerminan dari masyarakat flux, masyarakat dromology.

Model konsumsi masyarakat digital, apabila menurut Piliang masyarakat  konsumer maka masyarakat ini sebenarnya juga memproduksi atau yang diistilahkan Nathan sebagai masyarakat  prosumer.[2] Ia memproduksi diferensiasi dalam rangka untuk mendapatkan kekuasaan lewat konsumsinya dalam tontonan. Diana termasuk kelas, atau subkultur yang bukan dari golongan bangsawan-apabila disamakan dengan model kapitalisme awal-tapi justru dari eksistensi kelas inilah kekuasaan yang influential hadir.

Model kekuasan masyarakat kontemporer ini tidak lagi terletak di para pemegang modal yang menguasai kaum buruh seperti pada jaman kapitalisme tapi ia peripheral dari kaum pinggiran ke kaum elit, kaum pinggiran ini adalah subkultur yang mendapatkan kekuasaan mereka ,jumlahnya banyak dan beragam. Pada akhirnya mereka mempengaruhi yang tengah, dan Diana termasuk salah satunya.[3] Para fashion blogger (high profile figures) mendapatkan ketenaran dan berhasil mempengaruhi golongan yang lain, konsekuensinya yang tidak memiliki akses mudah ke media menjadi powerless.[4]

Gambar 1. Diana Rikasari dengan tas Furla, dan Sony Walkman edisi Hello Kity
Sumber: Rikasari, D. (2007, Maret). Hot Chocolate and Mint. Retrieved Mei 18, 2013, from Hot Chocolate and Mint: http://dianarikasari.blogspot.com/

[1] Piliang, Y. (2010). Konsumerisme Skizofenik. In Y. Piliang, Semiotika dan hiper semiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 141-145). Bandung: Matahari. [2] Jurgenson, N. (2011, September 12). The Society Page: Prosuming Identity Online. Retrieved Mei 17, 2013, from The Society Page: http://thesocietypages.org/cyborgology/2011/09/12/prosuming-identity-online/[3] Piliang, Y. (2010). Simulasi. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 125-130). Bandung: Matahari.[4] Thomas, L., & Wareing, S. (2000). Language, Society and Power An introduction. New York: Routledge.

Makin cepat ganti gambar di blog, di Facebook, atau Instgram, makin banyak komen, maka seseorang semakin eksis, dan semakin punya kekuasaan untuk menjadi trendsetter, dicari, dibutuhkan bahkan untuk kasus Diana, ia menjadi semacam primadona bagi produsen, dengan menjadikannya endorser produknya. Menurut Heidegger dalam Piliang, eksistensi Diana di dalam ruang mengalami perubahan mendasar dari sebentuk tubuh yang bergerak didalam ruang menjadi sebentuk tubuh yang diam ditempat yang meleburkan dirinya ke dalam dunia citraan. [1]

Konsumerisme skizofrenik. Ia menopengi dirinya dengan barang-barang konsumtif, terlalu banyak tanda, terlalu banyak gaya didunia cyber, Tanpa mengkonsumsi ia tidak lebih hnya sekedar gadungan (powerless)

Implosi pengetahuan

Diana adalah salah satu contoh dari generasi flux, generasi yang terkena implosif informasi. Informasi berada mengelilingi dia sehingga probablilitas dan posibitlitas dalam menggunakan dan memanfaatkan informasi tersebut menjadi tak terhingga dalam menghasilkan. Generasi flux tidak memiliki kedalaman dalam pemikiran mampu menyerap bnyak informasi seperti layaknya jurnalis tapi pendalamannya tidak terfokus. Semua praktek kehidupanya didasarkan pada kecepatan: kecepatan mengunggah foto, kecepatan memproduksi informasi, kecepatan memotret, kecepatan mengedit dan memanipulasi foto, karenanya ia juga adalah fotografer flux.[2]

Foto-foto citraan Diana di etalase blog atau Instagramnya menjadi tontonan yang silih berganti dengan cepat seolah menyerah tak berdaya (powerless) terserap dalam tempo kehidupan yang cepat. Lenyap ditelan kecepatan dan dilupakan.


[1] Piliang, Y. (2010). Nietzsche, Heidegger dan Postmodernisme. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 76-85). Bandung: Matahari. [2] Piliang, Y. (2011). Kekuasaan/kecepatan. In Y. Piliang, Dunia yang dilipat (pp. 81-88). Bandung: Matahari.

 Praktek kekuasaan

Kekuasaan pada akhirnya datang dari kumpulan orang kelas, sub kultur. ‘It’s a collective product. We create power by acting together’. Kekuasaan di era digital ini bukanlah bersifat repressive dan coercive, tapi punya daya tarik magis yang begitu mempengaruhi sehingga kita tidak sadar sudah dikontrol olehnya. Apa yang dilakukan Diana adalah ‘promosi’ terus-menerus dengan tema besar skenario ‘the perfect lifers’ menyediakan ekstasi kesenangan dalam tontonan yang membangun loyalitas sehingga menimbulkan pemujaan. Masyarakat menjadi fetis terhadapnya dan hanyut dalam control kekuasaannya.

Diana mempunyai referent power yaitu kemampuan seseorang untuk menarik orang lain  dan membangun loyalitas dengan kharisma dan kemampuan interpersonalnya. Menurut piliang kekuasaan yang dipraktekkan Diana adalah kekuasaan yang menghasilkan kesenangan, dan memproduksi pengetahuan, sifat inilah yang menjadikannya selalu dianggap positif, diterima dengan senang hati. Kekuasaan ini menghasilkan objek-objek hasrat.[1]

Obyektifikasi subyek

Dalam jaringan cyber, individu sangat diatur oleh diskursi (wacana) yaitu bahasa, media, iklan, televisi, dan film menjadi possessed individual.[2] Individu menjadi bergantung, pasif, tidak berdaya, dan terseduktif oleh hegemoni wacana-wacana tadi (karena melakukan praktek-praktek wacana), sehingga entitas manusia tidak lebih dari sebuah wacana,[3]  dalam kasus Diana, ia mempromosikan dirinya melalui identitas yang ditampilkan dalam foto-fotonya dalam blog dan Instagram. Manusia dicetak oleh foto, yang berarti foto mengatur diri manusia dalam kasus Diana.

Gambar 2. Sintaks dari album foto Instagram Diana Rikasari.
Sumber: Rikasari, D. (2010, Oktober). Dianarikasari. Retrieved Mei 9, 2013, from Instagram: http://instagram.com/dianarikasari#

Dalam budaya informasi teknologi yang serba cepat hubungan ini berubah menjadi hanya sebatas obyek dengan obyek. Subyek terobyektifikasi. Daniel Miller menjelaskan maksud hegel tentang hubungan subyek dengan obyek. Proses ganda yang melaluinya subyek mengeksternalisasi dirinya melalui tindakan kreasi diferensiasi:penciptaan obyek-obyek,dan mengembalikan diri (menginternalisasi) melalui tindakan sublasi (pemberian pengakuan) dengan mengkonsumsi. Dalam pemenuhannya ia merasa tidak puas dan membandingkannya dengan pengetahuan yang tidak ada habisnya, hasrat akan sebuah obyek bukan karena kekurangan yang dimilikinya tapi hasrat yang ia produksi dan reproduksi sendiri[4] sehingga muncul ketidak puasan abadi untuk menjadi sempurna, untuk mengejar kesempurnaan membangkitkan motivasi untuk terus mengkonsumsi (dihegemoni rasa haus untuk mencipta) dan memproduksi reference power dalam tontonan: ketika orang-orang melihat dia memakai tas atau jam baru, mereka ingin ikut memiliki, atau fotonya pada saat berolahraga semua orang ingin berolahraga, ia menciptakan tren dan menjadi panutan. Eksistensi Diana dinyatakan dalam praktek kekuasaan sebagai pencipta yang tidak pernah puas dalam mengekspresikan dirinya melalui promosi diri lewat tontonan.

Kesimpulan

Diana tidak seketika langsung mendapatkan kekuasaan untuk mengontrol lewat sosial media, melainkan melalui proses praktek dan konvensi yang dilakukannya dalam waktu yang lama, sejak tahun 2007 ia aktif menjadi blogger, kemudian Instagram. Dengan menyediakan infotainment ia menciptakan ketidaksadaran kolektif bagi audiennya membangun kepercayaan dan loyalitas. Tontonan yang diproduksinya melalui proses editing sedemikian rupa: tampilan, pose, pemilihan wardrobe, redaksi dan sebagainya-how the story gets told, tapi disisi lain ia juga terhegemoni karena dalam rangka untuk memproduksi tontonan tersebut ia harus juga mengkonsumsi, hubungan timbal balik ini jugalah yang menghasilkan kekuasaan, karena kekuasaan bukan obyek melainkan merupakan hasil dari relasi kolektif melibatkan Diana, industri media, industri barang-barang ekonomi: barang-barang yang dikonsumsi, industri software, diskursi teknologi, dan segala yang terlibat pada saat praktek dan konvensi dalam budaya kontemporer ini.


[1] Piliang, Y. (2010). Diskursus Post-modernisme. In Y. Piliang, Semiotika dan hipersemiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 101-114). Bandung: Matahari. [2] Kuliah Isu Kontemporer dalam Desain : Kognitariat oleh Yasraf Amir Piliang 4/2/2013 [3] Foucault, M. (2002). The Order of Things. London: Routledge. [4] Piliang, Y. (2010). Konsumerisme Skizofenik. In Y. Piliang, Semiotika dan hiper semiotika: kode, gaya & matinya makna (pp. 141-145). Bandung: Matahari.

 

 

Vintage Me: Diana Rikasari dalam Instagram Makna dan Representasi Realitas Foto Vintage dalam Instagram

Abstrak

Percepatan teknologi informasi telah menjelmakan segala bentuk fisik ke bentuk digital. Digitalisasi memungkinkan adanya manipulasi informasi termasuk pada foto, adalah foto-foto di era digital oleh masyarakat digital dimana Instagram menjadi salah satu ikonnya. Efek-efek seperti Sutro, Brannan, 1977 dan lainnya menghasilkan kreasi tampilan vintage pada foto Diana Rikasari (fashion blogger) yang berpose lengkap dengan wardrobe dan hair-do-nya. Foto vintage tidak benar-benar autentik demikian juga dengan subyek fotonya, semuanya telah diatur sedemikian rupa agar spectator melihatnya sesuai dengan kemauan sang fotografer seperti skenario yang diciptakan oleh fotografer amatir, mendokumentasikan dirinya dan tentang dirinya sendiri sehingga foto dipertanyakan kemampuannya dalam merepresentasikan realitas. Dalam tulisan ini peneliti menempatkan posisinya sebagai spectator yang mengamati sintakma foto Instagram Diana Rikasari dan mengidentifikasikan makna yang dikonstruksinya melalui teori Roland Barthes dan Baudrillard dalam semiotika foto.

Kata kunci: makna, representasi realitas, foto vintage Instagram Diana Rikasari

Digital image dan manipulasi foto

Awalnya foto dihasilkan dari proses tracing obyek/subyek referen secara mekanik dengan sinar matahari pada permukaan kertas seluoid , kemudian melalui prosedur film developing dibuat permanen dengan proses kimiawi menghasilkan foto yang fixed (tanda dengan realitasnya melekat). Foto film adalah representasi realitas yang menurut Piliang-mimetic, ia adalah bentuk realm dari referennya. [1]

Setelah Russel A. Kirsch menemukan proses baru dalam menjiplak imej foto, terjadilah invasi teknologi digital yang menggantikan proses mekanik dan kimiawi dalam foto-pola cahaya dan bayangan menjadi informasi digital yang dapat diproses secara elektronik.[2] Bentukan yang tadinya fisik menjadi digital akhirnya mempermudah dan mempercepat produksi dan konsumsinya. Informasi digital ini diperbanyak, ditambah, dikurangi dan dimanipulasi. Foto digital tidak lagi hanya terdiri dari pixel-pixel yang nilainya jujur (memuat informasi karakteristik warna-RGB), tapi ia juga bisa dikonstruksi dari mega pixel arbitrer sehingga tandanya juga artificial. Tanda ini sudah tidak lagi terstruktur, tidak lagi ekivalen dengan referensinya dalam realitas. Referensinya berdasar pada dirinya sendiri atau dengan kata lain tanda post-struktural ini petanda kepalsuan, fiksi, fantasi, ilusi dan nostalgia.


[1] Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari.

[2] Mitchell, W. (1994). The Reconfigured Eye:Visual Truth in the Post-photographic Era. Massacusetts: MIT Press.

Gambar 1. foto dengan efek vintage (ki-ka): normal, amaro, myfair, rise, hudson, valencia x-pro, sierra , willow , lomo-fi, earlybird, sutro, toaster, brannan, inkwell, walden, hefe, nasville, 1977, atau kelvin
Gambar 2. Ciwalk. foto vintage Instagram dengan efek X-Pro.
Sumber: Renaningtyas, L. (2010, October). lurycoco. Retrieved May 8, 2013, from Instagram: http://instagram.com/p/ZAQGJMD5Cn/

Nostalgia adalah salah satu tema besar dari posmodernitas yang ditempeli dengan tanda-tanda post-struktural. Merayakan masa lalu yang menurut Widagdo merupakan semangat postmodern [3], yang dikreasikan kembali melalui olah digital dalam aplikasi Instagram. Tanda artifisial ditambahkan pada foto dalam bentuk filter seperti amaro, myfair, rise, hudson, valencia  x-pro, sierra , willow , lomo-fi, earlybird,  sutro, toaster, brannan, inkwell, walden, hefe, nasville, 1977, atau kelvin yang ketika diaplikasikan foto tersebut akan tampak vintage.

Pada saat saya melihat foto vintage ini perasaan saya langsung terbawa ke masa yang diungkapkan Barthes sebagai invitation au voyages la vie antérieure. [4] Tampilan visualnya mengundang saya untuk mengingat masa lalu, berada di masa itu dan bernostalgia dalam utopia.

 


[3] Widagdo. (2011). Desain & Kebudayaan. Bandung: ITB.

[4] Barthes, R. (1981). Camera Lucida. New York: Hill and Wang.

The (hyper) authentic vintage photo

Nostalgia yang timbul adalah simulasi akibat kemajuan teknologi yang disebut Piliang sebagai teknologi generasi ketiga yang digerakkan oleh microelectronics, microchips, microprocessors didalam gadget anda, mereproduksi dan mensimulasikan realitas, termasuk tampilan vintage pada foto.[5] Filter vintage kata Nathan  menambah perasaan nostalgia [6], karena foto dibuat autentik dengan vignette, lens blur, dan warna-warna khas film 600  yang hangat atau bluish dari film PX70. Tetapi ia menjadi hiper autentik karena keautentikan yang sebenarnya (tahun 1950-1980-an) merupakan hasil keterbatasan teknologi generasi kedua dengan cara mekanik. Ada pengaruh suhu yang menentukan lumen warnanya. Proses produksi imejnya terjadi secara kimiawi selain itu keterbatasan kualitas lensa, ekpsosur, kecepatan lensa, serta penguasaan teknik sang fotografer ikut menentukan keberhasilan produksi foto.

 


[5] Piliang, Y. A. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari.

[6]Jurgenson, N. (2011, May 10). augmented-reality: page 6. Retrieved April 15, 2012, from http://thesocietypages.org: http://thesocietypages.org/cyborgology/2011/05/10/the-faux-vintage-photo-part-i-hipstamatic-and-instagram/

 

Gambar 3. Dua foto dengan obyek yang berbeda tapi keduanya menggunakan filter Willow yang sama. a. foto pintu-pintu kelas b. foto Diana Rikasari.
Sumber: a. Renaningtyas, L. (2010, October). lurycoco. Retrieved May 8, 2013, from Instagram: http://instagram.com/p/ZAQGJMD5Cn/
b. Rikasari, D. (2010, Oktober). Dianarikasari. Retrieved Mei 9, 2013, from Instagram: http://instagram.com/dianarikasari#

Banyaknya faktor penentu tersebut menjadikan hasilnya heterogen. Tidak pernah identik meskipun menggunakan kamera, film dan referensi yang sama, karenanya ia adalah autentik yang real (faktanya kamera polaroid masih tetap diproduksi sampai sekarang, sehingga foto-foto vintage polaroid bisa jadi autentik), sedangkan dengan teknologi digital, memotret jadi lebih mudah. Tinggal ‘tap’ maka mesin elektronik, dengan perhitungan algoritmik integralnya yang presisi akan melakukan semua ‘ritual’ tadi, menambahkan simulasi nostalgia pada visual foto, sehingga dengan cepat ia bisa dibuat vintage, tapi homogenic. Foto faux vintage hasil dari filter amaro misalnya, akan identik dengan foto lainnya dengan filter yang sama atau bahkan jika referensi fotonya juga sama maka tidak lagi dapat dibedakan antara foto pertama dan selanjutnya, antara yang asli dan duplikasinya.

Nostalgia dan keautentikan sebagai fantasi yang diduplikasi oleh Instagram menjadi seolah-olah real, inilah yang dinamakan hiper-realitas, pengalaman ruang yang dihasilkan dari simulasi. Sebuah kompresi, rekonstruksi waktu ditahun 1950-1980 ke dalam waktu sekarang sehingga memampukan manusia mengalami pengalaman ruang baru yang disebut Baudrillard dengan simulacrum, simulacrum of nostalgia. [7]

Dalam simulakrum terdapat realitas yang melampaui (hiper), dimana realitas referensialnya tidak pernah ada. Jika Barthes mengatakan sebuah foto dimasa kini menyampaikan kebenaran karena ia mereferensi obyeknya di masa lalu-obyeknya mutlak hadir dan berada dibalik lensa- ‘it has been there,’ maka realitas ‘it never been there’ dibalik simulakrum. [8]

Absennya referensi, akibat duplikasi dari nostalgia dan keautentikan melalui simulasi, tapi saya menemukan bahwa tidak cukup memahami simulasi hanya pada tampilan keseluruhannya, melainkan juga bisa menarik diri lebih dalam dengan berpikir lebih detail, menurut pengamatan saya simulasi dimulai dari filternya. Toaster misalnya dengan penandanya berupa warna yang burn out, washed out, dan frame putihnya, ia hanyalah duplikasi efek dari film Polaroid 680, sebab ‘it never been there’

 


[9] Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Michigan: The University of Michigan

[10] Barthes, R. (1981). Camera Lucida. New York: Hill and Wang.

dan berarti menurut Piliang petanda realitas sudah mati, maka filter ini mengandung penanda yang hanya penanda itu sendiri atau petanda palsu (pseudo signified). Sedangkan foto obyek/subyek, awalnya merupakan representasi realitas, karena tanda dan realitasnya linear dan ketika filter tersebut diaplikasikan padanya, maka citra realitasnya menjadi termanipulasi, ditambahi dengan tanda arbitrer (augmented reality)-keautentikan.

Gambar 4. Struktur realitas pada foto vintage Instagram. Diadaptasi dari Baudrillard tentang struktur tanda dalam simulasi

 

Keautentikan yang pada level kedua Barthes metaforanya sudah mati, ia pada akhirnya dipahami sebagai denotasi-menjadi autentik yang sebenarnya, orang-orang tidak mempertanyakan lagi darimana dan bagaimana foto mereka bisa seketika menjadi vintage pada saat mengaplikasikan filter ini. Mereka high dengan tontonan yang disuguhkan Instagram-tapi tidak dengan saya.  Saya kemudian membandingkan keautentikannya dengan foto dari kamera Polaroid, Lomo, TLR atau Holga yang sekarang masih diproduksi. Menurut saya mereka layak dibandingkan karena filter-filter vintage instagram menduplikasi film Polaroid. Kamera Polaroid SX-70 dengan film PX 70 menyerupai filter walden dengan warna dingin dan washed out, sedangkan filter hefe mirip dengan efek film 680 dengan warna hangat dan tone kekuningan. Mereka sama-sama mepresentasikan keautentikan dalam kemasan visual vintage, tapi foto Polaroid bentuknya fisik, dihasilkan dari teknologi di masa dimana vintage berasal, keterbatasan teknologi lensa yang menentukan depth of field, fokus, dan pengaruh suhu pada hasil akhir, dst. Pertanyaannya apakah foto Polaroid juga adalah simulator?

‘I don’t look through but I see through..’ menurut saya penjelasan diatas berlaku kembali, bahwa yang merupakan simulasi bisa dikatakan utuh atau parsial. Jika pada foto Instagram simulasi vintage-nya hanya sebatas efeknya saja, pada foto Polaroid yang disimulasikan termasuk pada fitur foto, dan pengalaman memproduksinya. Meskipun demikian foto polaroid apabila ditarik ke esensinya-its noema, ia bukan ‘that has been,’ ia nyata tapi tidak sesungguhnya berasal dari masa lalu, referensinya bukan di tahun 1950/1980, melainkan alat produksi dan produknya saja. Keduanya menduplikasi kemasan vintage-seolah autentik- walaupun berbeda ‘derajad’ motivasinya. Antara Instagram dan Polaroid hanyalah saling berkompetisi-antara teknologi generasi kedua dan generasi ketiga dalam rangka menghasilkan diferensiasi produksi tontonan. Instagram dan Polaroid secara keseluruhan tetap pada akhirnya adalah simulasi, mereka adalah simulator.

Mengkaitkan perkembangan simulasi dengan perkembangan masyarakat digital, masyakat prosumer-masyarakat produsen dan consumer, ia memproduksi diferensiasi. Diferensiasi dalam tontonan dengan cara membuat fiksi, ilusi dan nostalgia menjadi tampak nyata seperti foto vintage melalui simulasi filter vintage dalam aplikasi instagram. Orang-orang berlomba-lomba membuat diferensiasi tontonan, mereka saling bersaing, mempersaingkan tanda-tanda. Menyuguhkan fashion, kuliner, gaya hidup, barang-barang yang dikonsumsi dan dipertontonkan melalui Instagram, inilah yang menurut Piliang menjadi komoditi didalam masyarakat digital, masyarakat tontonan.

Vintage me: Diana Rikasari

Tontonan yang dipertontonkan Diana Rikasari melalui kumpulan album foto Instagram-nya adalah juga dalam rangka untuk mengekspresikan diferensiasinya diantara fashion blogger lainnya. Diferensiasi ini dihasilkan dari penyangkalan realitas. Pengkhianatan terhadap diri (yang mereferensi pada realitas), dengan demikian Diana, Sonia Eryka, Anastasia Siantar, dsb, sebenarnya sedang mensimulasikan fantasi, ilusi, dan nostalgia dengan kemasan vintage melalui ‘skenario’ yang dari dan oleh dirinya (sebagai sang fotografer). Skenario ini begitu kuat mengatur dirinya didepan lensa sebelum ia difoto, dan imejnya terdekode dalam bentuk digital sebagai foto vintage. Dalam men-enkode foto ini kemudian tidak lagi hanya sebatas denotasinya saja, bagi Barthes ada detail-detail pada tampilan permukaan foto yang berfungsi sebagai agen konotasi memproduksi makna tidak sebenarnya.

Foto Diana Rikasari denotasinya adalah foto itu sendiri, yang menampilkan dianarikasari dengan preferensinya terhadap fashion, kuliner, dan travelling. Pada level kedua makna denotasi ini dikulturasi berubah menjadi konotasi melalui konotator-konotatornya. Klasifikasi konotator berikut sedikit berbeda dengan milik Barthes, tapi yang perlu digaris bawahi adalah adanya agen konotasi yang diskenario sedemikian rupa menghasilkan ‘realitas’-simulakrum foto vintage.

Dalam melakukan pemotretan angle dan komposisi diatur sedemikian rupa oleh fotografer demi menghasilkan tontonan yang estetis. Bagi Diana dan blogger lainnya tidak perlu menguasai teknis fotografi tapi para fotografer flux ini harus memiliki apa yang Nathan sebut sebagai documentary vision.[11] Bagi mereka yang terbiasa ‘menyajikan tontonan’ lewat dokumentasi diri, akan terbiasa juga dalam mengatur elemen-elemen estetis yang ditampilkan nantinya.  Selain itu trik melalui simulasi dengan mengaplikasikan tanda arbitrer pada setiap pixel dalam foto Diana, menambahkan kesan vintage pada permukaan visual foto. Filter vintage seperti inkwell atau toaster misalnya, secara ekstrim merubah keseluruhan warna foto menjadi hitam putih atau burn out. Ketika saya melihat foto ini saya mengenalinya sebagai foto jaman dulu, foto vintage yang kuno. Dalam sintaknya, tidak semua foto Diana terlihat vintage, bahkan beberapa diantaranya tanpa filter vintage, saya merasakan bahwa pada akhirnya para spektator perlahan beralih meninggalkan euphoria vintage, mereka beranggapan foto-foto vintage ini sudah menjadi hal yang biasa, bukan lagi metafora, karena sudah di naturalisasi oleh masyarakat, oleh kultur.

Maka spektator sekarang lebih fokus kepada subyek/obyek dibalik ‘lensa’ vintage, yang memodifikasi simulakrum. Melalui pose tubuh, gesture dan proxemics-setuju dengan klasifikasi Barthes- wardrobe, seting, dan properti, Diana menyampaikan narasi tentang stereotip kultur. Ketika image efek dan pose dikulturasi maka ia menyampaikan makna dari fotografer yang dalam kasus ini adalah dia sendiri. Secara sintaknya Dianarikasari itu dipahami sebagai sosok yang fashionable: atribut fashion, pose, hair-do, asesoris, branded clothing, gaya hidupnya sehat karena dia berolahraga, dan sukses (entrepreneur: menggunakan sepatu buatannya sendiri). Sebuah skenario narasi stereoptip kultur dalam tontonan.

 


[11] Jurgenson, N. (2011, May 10). augmented-reality: page 6. Retrieved April 15, 2012, from http://thesocietypages.org: http://thesocietypages.org/cyborgology/2011/05/10/the-faux-vintage-photo-part-i-hipstamatic-and-instagram/

 

Gambar 5. Tingkatan tanda pada foto vintage Instagram Diana Rikasari. Diadaptasi dari Barthes tentang struktur tanda dalam simulasi

The dead of me­­­

Karena diatur sedemikian rupa, seluruhnya adalah artifisial maka foto Diana adalah simulakrum. Simulasi repesentasi realitas. Pose yang di skenario sedemikan rupa diatas membuat sang model mendedikasikan dirinya menjadi ‘I’: saya ingin dilihat seperti apa yang fotografer inginkan, dan saya yang ingin apa yang orang lain liat tentang ‘saya’ tetapi masih sebagai saya dalam diri saya, sehingga membuat saya keluar dari diri saya (myself) menjadi peran yang lain (me) dalam badaniah yang sama, menuntut dialektika terus menerus antara me and myself.

Gambar 6. Sintaks dari album foto Instagram Diana Rikasari.
Sumber: Rikasari, D. (2010, Oktober). Dianarikasari. Retrieved Mei 9, 2013, from Instagram: http://instagram.com/dianarikasari#

 

Demikian halnya dengan Diana dan ia sebagai sang fotografer yang menjadi ‘sutradara’ bagi dirinya sendiri. Ia mengatur pose, gesture, dan properti apa yang akan dipakai, tapi disaat yang sama ia juga menjadi peran lain yang berpose dalam simulakrum (wardrobe, property, setting, dll). Ia mentranformasi dirinya menjadi corpse, foto-foto ini kemudian menjadi the living images of the dead things, seperti apa yang diumpakan Barthes dengan Tableu vivant.[12] Sutradara, skenario, corpse dan fotografi ada didalam pertunjukan seni tersebut. Para aktor berpose mematung, dengan suasana teatrikal, panggung dan spot light yang begitu retorik membuat penontonnya berhalusinasi antara the real and the life.

 


[12] Barthes, R. (1981). Camera Lucida. New York: Hill and Wang.

 

 

 

 

 

Life in a Flatland: Kajian kritis tentang online game

Abstrak

Game online menjadi salah satu media hiburan yang memungkinkan pemainnya untuk istirahat sejenak dari realitas, mengisi waktu luang atau sekedar bersenang-senang. Dengan jaringan di Internet sebuah game dapat dimainkan bersama-sama dimana para pemainnya juga dapat berinteraksi satu dengan yang lain. Tidak hanya untuk fun, sebenarnya game juga memproduksi environment baru, sebuah dunia virtual, yang tidak pernah hadir secara fisik. Relasi sosial yang anda lakukan ketika bermain game menciptakan ruang tamu virtual dirumah anda. Dunia virtual ini membius anda sehingga anda menjadi lupa akan realitas. Berawal dari ruang tamu virtual, makalah ini akan menkaji secara kritis fenomena online game sebagai sebuah media dari sudut padang sejarah kebudayaan dan semiotika.

Game online, virtual, realitas.

Pendahuluan

Di era postmodern ini segala hal yang fisik telah didigitalisasi menjadi bentuk virtual. Adalah teknologi yang digunakan manusia sebagai alat bantu, telah berkembang pesat meninggalkan sistem mekanik, ke analog,  lalu ke sistem yang lebih kompleks. Demikian juga dengan bentuknya yang semakin compact, ringan, dan desainnya yang mengikuti anatomi manusia ketika menggunakannya. Komputer generasi pertama tahun 1941, Z3, memiliki bentuk yang sangat besar sehingga tidak dapat dipindahkan, kemudian ia berevolusi menjadi bentuk yang lebih kecil dan portable-komputer jinjing atau laptop, lalu diperkecil lagi menjadi hanya sebesar chip dalam smartphone anda. Komputer tidak lagi sebagai alat hitung melainkan intelejensia yang dapat memberikan feedback kepada anda, ia melakukan interaksi dengan anda. Komputer memberikan solusi dari masalah tetapi juga dapat menyediakan anda hiburan salah satunya adalah game. Ketika bermain game sebenarnya anda tidak saja berinteraksi dengan komputer tetapi game itu sendiri adalah environment baru yang membawa anda seolah berada dalam environment tersebut. Interaksi yang selanjutnya terjadi dapat dilakukan dari banyak arah, hal ini disebabkan oleh adanya jaringan internet. Internet menjadikan environment satu dengan environment yang lain saling terhubung dan berinteraksi bebas.

Mengadaptasi dari Wolley akan istilah yang dipakainya dari karya Edwin Abbot-Flatland. Sebuah dunia virtual dibalik layar yang kita tonton-life in a flatland-ketika anda menggunakan karakter game yang anda mainkan anda merasakan seperti berada dalam game tersebut, anda terlibat, adrenalin terpompa, anda berteriak marah ketika karakter tersebut dipukul lawan tapi setelah dia berhasil mengalahkan musuh anda merasa begitu terpuaskan tapi anda tidak sadar sudah 4 jam waktu yang dihabiskan untuk sekedar menatap layar, seakan tubuh anda diruang tamu tetapi pikiran anda sedang bertamasya ke dunia virtual. Anda menggantikan komunikasi didalam rumah, bertetangga atau dilingkungan masyarakat dengan relasi semu didalam game. Karakter anda bertemu dengan karakter lain. Ia adalah avatar dari pemain game lain, ia bisa kerabat, teman atau orang yang sama sekali tidak anda kenal dan jauh dari anda. Sementara realitasnya, relasi tersebut adalah virtual, rekan anda didalam game tidak pernah datang langsung dan berbincang diruang tamu bersama anda. Karena berjam-jam anda menatap layar, anda tidak lagi berbicara dengan orang dirumah anda sendiri. Seperti yang diungkapkan Piliang kesemuan ini menjadi semacam virus yang menjangkiti anda setelah contact dengannya, menginfeksi anda sehingga anda terputus dari realitas fisik (paralyzed). Hal ini juga yang akan dikritisi didalam makalah ini dari kacamata kebudayaan yang juga berkaitan dengan sejarah peradaban manusia, termasuk memaparkan penyebab dari ‘kelumpuhan’ tersebut dan mengapa manusia sepertinya tidak dapat menghindari serangan virus virtual.

Continue reading Life in a Flatland: Kajian kritis tentang online game

Photo blogging : Gaya Hidup Baru atau Hanya Tren Sesaat

Abstrak

Mendokumentasikan diri lewat blog telah menjadi hal yang akrab ditelinga kita, sehingga munculah photo blog, sebuah aktivitas yang lebih spesifik dari yang dilakukan lewat Facebook. User hanya mengunggah foto untuk menceritakan kisah tentang kehidupan sehari-harinya. Foto dibaca sebagai teks verbal yang seolah hidup dan berkomunikasi dalam relasi sosial. Dalam jurnal ini penulis menjelaskan bagaimana photo blog didefinisikan sebagai ‘gaya’ dari sebuah gaya hidup yang telah ada sebelumnya, hingga suatu saat dia adalah gaya hidup itu sendiri dan sebagai sebuah gaya dia berkembang dan bisa menjadi tren dalam gaya hidup.

 

Kata kunci: photo blog, gaya hidup, tren

Continue reading Photo blogging : Gaya Hidup Baru atau Hanya Tren Sesaat